Zaman Keemasan Islam: Sebuah Peradaban yang Terlupakan
Sering kita mendengar dalam kehidupan kita sehari-hari, entah saat berdiskusi ringan atau dalam ruang-ruang ilmiah, seringkali yang diperbincangkan hanya peradaban dunia Barat. Ketika membahas tentang filsafat, maka orang-orang akan akrab dengan nama-nama seperti Aristoteles, Socrates, Plato, dll yang sudah sangat lampau jauh masanya dengan masa sekarang. Ketika kita berbicara tentang ilmuwan, maka akan banyak yang menjawab nama-nama seperti Einsten, Newton, Galileo, dll. Ketika kita berbicara tentang peradaban, maka yang terbayang adalah tentang bangunan megah peninggalan sejarah seperti Piramida Giza di Mesir, Colosseum di Roma, Tembok Besar di Cina, Stonehenge di Britania Raya, Borobudur di Indonesia, dan masih banyak lagi peninggalan lainnya. Tapi apakah saat berbicara tentang ilmuwan dan peradaban hanya sebatas itu saja ? lalu bagaimana dengan ilmuwan-ilmuwan muslim ? yang dari mereka para tokoh-tokoh dan ilmuwan barat banyak belajar. Bagaimana dengan peradaban-peradaban yang telah diciptakan oleh kaum muslimin dimasa kejayaannya dahulu ? Al Hambra di Granada, Mezquita di Cordoba (Spanyol) , Hagia Sophi (Turki), dll. Sumbangsih dan peran penting mereka untuk dunia perlahan seakan-akan terlupakan oleh sejarah, kisah-kisah mereka bahkan terluput oleh kaum muslim itu sendiri.
Jauh sebelum munculnya ilmuwan dan tokoh besar di Barat. Islam telah melahirkan para ilmuwan-ilmuwan yang memberi pengaruh besar pada zamannya. Tidak hanya pada satu bidang, mereka bahkan ahli dibeberapa bidang. Mereka adalah Al-Biruni (fisika, kedokteran), Al-Khawarizmi (matematika), Ibnu Sina (kedokteran,astronomi,kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi, sejarah), Al Kindi (filsafat), Jabir Haiyan (kimia), Al-Bitruji (astronomi), Ibnu Haitsam (teknik, optik), dan banyak lagi. Dari beberapa literature menyebutkan bahwa sebenarnya sebelum para ilmuwan-ilmuwan tersebut muncul, sudah ada peradaban atau perkembangan ilmu pengetahuan yaitu Yunani, Romawi, Persia, India. Setelah itu memasuki peradaban Eropa (Renaissance). Namun sebelum Renaissance, ada sebuah peradaban yang memiliki peran besar bagi terciptanya peradaban selanjutnya, yaitu peradaban Islam. “Cukup beralasan jika kita mengatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi penggeraknya, Barat bukanlah apa-apa”, kata Montgomery Watt.
Ketika dinasti Umayyah beralih menjadi dinasti abbasiyah, pusat pemerintahan pun ikut berpindah dari Damaskus ke Baghdad (di Mesopotamia). Pada era ini, khususnya pada masa Harun Ar Rasyid dan anaknya Ma’mun Ar-Rasyid, dunia Islam mengalami kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan budaya yang luar biasa pesat, masa ini dikenal dengan masa keemasan ilsam (The Golden Age Of Islam). Pada masa pemerintahannya Khalifah Harun Ar-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah (bahasa Indonesia: Rumah Kebijaksanaan), yaitu perpustakaan, lembaga penerjemah, dan pusat penelitian. Baitul Hikmah menjadi salah satu kunci masuknya literature asing (barat) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab dan sebagai jembatan dalam proses transfer ilmu pengetahuan pada zaman keemasan Islam. Baitul Hikmah mencapai puncaknya dimasa kepemimpinan Ma’mun Ar-Rasyid, putranya. Sepanjang abad ke-9 hingga ke-13, banyak ilmuwan termasuk yang berlatarbelakang Persia maupun Kristen ikut ambil bagian pada penelitian dan pendidikan pada lembaga ini. Dibawah kepemimpinannya, obesrvatorium didirikan, Baitul Hikmah telah menjadi pusat studi ilmu pengetahuan dan studi humaniora yang terbaik pada masa abad pertengahan Islam, meliputi bidang matematika, kedokteran, astronomi, kimia, zoology, dan geografi. Tidak hanya dari bangsa barat, literatur-literatur dari Yunani, Persia, dan India juga kumpulkan, para ilmuwan telah mengoleksi pengetahuan-pengetahuan dunia. Dari itu semua para ilmuwan yang berhubungan dengan Baitul Hikmah juga mampu membuat penemuan–penemuan mereka sendiri dari berbagai bidang. Pada pertengahan abad 9 masehi, Baitul Hikmah menjadi repository terbesar dari buku-buku dunia. Beberapa ilmuwan yang dikenal dan memiliki hubungan dengan Baitul Hikmah yaitu Al Khawarizmi (780-850), ahli matematika; Al-Jahiz (781-861), penulis dan ahli biologi; Al-Jazari (1136-1206), Ahli fisika dan teknisi. Periode yang cukup panjang ini (sekitar 500 tahun), bisa dikatakan tidak ada peradaban yang bisa menandingi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, dari Mulai Eropa, Cina, India, semuanya salut dengan kegigihan kekhalifahan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan melebihi peradaban manapun pada masa itu. Pada tahun 1258 M, terjadi penyerangan Baghdad oleh invasi pasukan Hulagu Khan, Baitul Hikmah beserta literatur-literatur didalamnya ikut dihancurkan. Hanya sedikit yang tersisa dan berhasil diselamatkan oleh salah satu ilmuwan lain bernama Al-Tusi, yang membawa kabur naskah-naskah yang berhasil diselamatkan ke Observatorium Maragheh (Azerbaijan), yang kemudian berjasa memberikan jalan untuk munculnya era renaissance di Eropa. Semenjak abad ke-11 sampai abad ke-13 masehi, Eropa banyak menyerap pengetahuan melalui Islam, termasuk yang dianggap penting yaitu penemuan kembali teks-teks Yunani Kuno melalui pengalih-bahasaan dari bahasa Arab. Berbagai penemuan dan penelitian dengan jumlah yang besar di dunia Islam memberi sumbangsih terhadap Eropa abad pertengahan yang mempengaruhi berbagai bidang di Eropa seperti seni, arsitektur, kedokteran, pertanian, bahasa, teknologi, dll. Sejarah singkat yang dijelaskan diatas hanyalah sedikit dari cerita panjang tentang kejayaan Islam, dan masih banyak lagi yang mesti kita gali dan ketahui.
Penyebab Kemunduran dan Tantangan Umat Islam Saat Ini
Dalam karyanya yang berjudul ‘Muslim Civilization: The Causes of Decline and the Need for Reform, Muhammad Umar Chapra, intelektual Pakistan, menganalisis sejumlah dugaan yang menyebabkan surutnya pengaruh Islam di kancah global. Bab awal buku dibahas tentang kondisi umat Islam. Seperti disadari banyak kalangan, kaum muslim di dunia umumnya mengalami beragam persoalan, mulai dari kemerosotan moral, ketimpangan pendapatan, konfli, hingga perang saudara. Penyelidikan atas hal tersebut dapat dimulai dari sisi internal dan eksternal umat Islam. Jika ajaran ini mendorong kebangkitan peradaban Islam pada azaman dahulu, mengapa tidak deimikian halnya dengan masa sekarang ? Apakah penyebab kemalangan umat Islam merupakan rongrongan pihak luar, tetapi siapakah yang patut disalahkan ? Bagi dia, pertanyaan-pertanyaan krusial seperti itu patut disoroti terlebih dahulu, sehingga dapat mengetahui langkah-langkah apa yang harus dikerjakan untuk memperbaiki kondisi saat ini. Tapi dari situ, kita patut belajar dari kisah bagaimana Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabat membangun Madinah pasca hijrah kesana.
Pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1 H, bertepatan dengan tanggal 27 September 622 M, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah SAW adalah membangun masjid pertama yang Rasulullah terjun langsung dalam proses pembangunannya, yaitu masjid nabawi. Masjid itu bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat semata, tetapi juga merupakan sekolahan bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran Islam dan bimbingannya-bimbingannya, sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa Jahiliyah, sebagai tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan. Di samping semua itu, masjid tersebut juga berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang Muhajirin yang miskin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, tidak mempunyai kerabat dan masih bujangan dan belum berkeluarga. Halaqah-halaqah ilmu yang dahulu dipenuhi oleh para sahabat di sekeliling Rasulullah SAW merupakan majelis ilmu yang pertama kali di Madinah. Mungkin apa yang dihadapi Rasul dan sahabat saat itu berbeda konteksnya dengan zaman sekarang ini, tapi disitulah tantangan bagi kita untuk menghadapi masa sekarang ini dengan mencoba mengambil hikmah dari kisah-kisah sebelumnya yang sarat akan perjuangan dan inspirasi.
Optimisme : Membangun Kembali Peradaban
Bila kita membandingkan keadaan kaum Muslimin di zaman sekarang dengan di zaman Rasulullah SAW dan Salafus Shalih RA di masa lalu. Salafus shalih mampu melahirkan peradaban besar, kejayaan, kemenangan, dan keteladanan; sedangkan Umat Islam di masa sekarang akrab dengan kekalahan, perpecahan, ketertindasan, minimnya pemahaman, serta ketidakberdayaan membangun peradaban Islam. Salah satu factor yang jadi penyebabnya adalah kurangnya perhatian terhadap agama ini serta optimisme kaum muslim. Padahal dari awal agama ini mengajarkan sifat optimisme. Seperti yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an saat proses penciptaan manusia, malaikat pesimis akan penciptaan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi, namun Allah SWT dengan tegas menjawab bahwa sesungguhnya Dia lebih tahu tentang makna penciptaan tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa proses penciptaan manusia diciptakan dengan optimisme. Dalam Surah Ali Imran ayat 139 disebutkan “Dan janganlah kalian merasa hina dan bersedih hati, karena kalian adalah yang paling tinggi, jika kalian orang-orang yang beriman” Dalam ayat tersebut setidaknya ada dua pesan yakni pesan untuk optimis dan anjuran untuk beriman. Seperti pada kisah Khadijah yang menyemangati Rasul saat telah menerima wahyu dari Malaikat Jibril yang sewaktu itu Rasul sangat merasakan kecemasan. Kisah optimisme juga banyak terjadi dalam perjuangan pasukan Islam yang tidak jarang kalah jumlah dari kaum kafir dalam peperangan-peperangan yang memperjuangkan Islam.
Namun, satu hal yang terpenting dalam mempelajari asas-asas peradaban Islam adalah kembali ke Islam itu sendiri, kembali mempelajari lebih dalam lagi tentang ilmu-ilmu Islam yang bukan hanya terbatas tentang fikih tapi juga yang bersifat ‘kauniyah’, yang memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir, sebab dari ayat pertama ayat suci Al-Qur’an pun kita diperintahkan untuk ‘iqra’. Dari kisah kejayaan Islam dimasa lampau, penyebab kemunduran Islam saat ini, dan sikap optimisme yang telah diperintahkan kepada kita, dan sejarah kehebatan Islam dimasa lampau, apakah hanya akan jadi sebuah cerita masa lalu bagi umat muslim ? ataukah (yang memang sudah semestinya) menjadi inspirasi untuk bangkit dan menjadi lebih baik ?
Tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini memang cukup berat, tapi dengan izin Allah kita bisa. Peradaban tertinggi adalah dengan mengenal Allah SWT. Wallahua’lam
Referensi:
Referensi:
https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-peradaban-islam-ilmu-pengetahuan
https://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_Golden_Age
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rumah_Kebijaksanaan
https://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Wisdom
https://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_Golden_Age
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rumah_Kebijaksanaan
https://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Wisdom
Komentar