Hikmah Idul Adha 1440 H
HIKMAH HARI RAYA IDUL ADHA
Ringkasan ceramah hikmah Hari Raya Idul Adha (10
Dzulhijjah 1440 H/11 Agustus 2019)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil
Hamd
Kaum Muslimin, Jamaah Idul Adha
Dalam catatan sejarah perkembangan islam, bahwa peringatan hari
raya Islam yang dikenal hanya ada 2. Pertama adalah hari raya Idul Fitri, yang
disebut sebagai momen deklarasi peletakan batu pertama pondasi ajaran islam,
sebab Al Qur’an pertama kali turun kepada Rasulullah Muhammad SAW pada tanggal
17 Ramadan yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5. Sebagai rangkaian dari Ramadan ini,
maka pada tanggal 1 Syawal diperingatilah hari raya Idul Fitri. Kedua, adalah Hari
Raya Idul Adha yang disebut sebagai momentum deklarasi peletakan batu terakhir
dan penyempurnaan ajaran Islam, sebab pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10
Hijriyah ketika Nabi Muhammad SAW sedang wukuf di Padang Arafah, Allah
Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat terakhir :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
”Pada hari ini
telah kusempurnakan untukmu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan
telah ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu” (Q.S Al Maidah:3)
Maka sekitar 81
hari setelah ayat ini diterima oleh Rasulullah SAW, beliau pun wafat di
Madinah, ayat ini merupakan penutup dan penyempurna. Maka sebagai rangkaian
dari wukuf di Arafah ini, pada tanggal 10 Dzulhijjah itulah diperingati Hari
Raya Idul Adha seperti yang kita laksanakan pada pagi hari ini (11 Agustus
2019), itulah sebabnya hari raya idul adha sebagai idul akbar yang merupakan
hari kebesaran dan ke-agungan bagi umat Islam, apalagi ditambah dengan
berkumpulnya 2 proses ibadah, pertama adalah ibadah haji; yang kedua adalah
ibadah qurban.
Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Umat Islam rutin setiap dalam setahun
berkumpul dan bersatu dalam melaksanakan idul fitri dan idul adha sebagai hari
kemenangan dan kebahagiaan, tetapi dalam kenyataan kehidupan social kemanusiaan
Umat Islam masih terkesan bersatu dan bersama ketika shalat berjamaah dan
ketika dalam masjid. Tapi ketika di luar masjid, terkadang sesama Umat Islam,
saling bercerai-berai, saling terpecah belah, bahkan cenderung bermusuhan
antara sesamanya. Terkadang sesama umat Islam, saling memfitnah, saling
menyalahkan, bahkan saling mencurigai yang tak berdasar, sibuk membicarakan
kekurangan dan kesalahan sesamanya, bahkan tidak mau menghargai kelebihan dan
keberhasilan terhadap sesamanya. Demikian juga, ada juga yang maunya
hanya ingin menerima pengorbanan orang lain, tapi ia sendiri tidak mau
berkorban, bahkan boleh jadi ada diantara kita yang rela mengorbankan
saudara-saudaranya demi memperoleh ambisi dan kepentingan tertentu, demikian
juga terkadang pengalaman agama secara ritual dan spiritual bagus tapi sisi
yang malang tanggungjawab social kemanusiaan masih sangat kurang, rajin shalat
berjamaah di masjid tapi tidak peduli terhadap nasib dan penderitaan sesamanya.
Ini sebuah kesenjangan yang cukup memprihatinkan karena saleh secara ritual dan
spiritual tapi tidak saleh secara social kemanusiaan. Padahal dalam ajaran
Islam, ke-salehan ritual, kesalehan spiritual, kesalehan social, kesalehan
moral, semuanya harus terpadu secara integral. Keterpaduan inilah yang kita
maksudkan dengan istilah ‘Tauhid Sosial’, bukan sekedar
tauhid secara verbal bahwa sangat yakin dan percaya atas ke-Esa-an Allah tapi
sisi lain ia sangat tidak peduli terhadap persoalan social kemasyarakatan.
Bahkan ada kecenderungan kita tidak sadar telah berbuat kejahatan social
kemanusiaan dengan cara membiarkan kemiskinan, membiarkan kebodohan, membiarkan
pengangguran, dan segala macam penyakit-penyakit social kita biarkan merajalela
begitu saja. Dalam Al Qur’an Surah Al Ma’un, Allah Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman dalam Q.S.Al Ma'un (Ayat 1-7) :
“(1) Taukah kalian
siapa yang mendustakan agama ? (2) Maka itulah yang menghardik anak yatim, (3)
dan tidak memberi makan orang miskin. (4) Maka celakalah orang yang shalat. (5)
(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya. (6) yang berbuat ria, (7) dan
enggan (memberikan) bantuan."
Dalam
Ayat ini sangat jelas, bahwa diantara tanda-tandanya orang yang mendustakan
agama adalah orang yang tidak punya kepedulian, tidak mau berbagi, tidak mau
membantu terhadap sesamanya, khususnya terhadap anak yatim yang terlantar dan
juga orang-orang miskin. Maka bagaimana cara mengatasi mental dan sifat-sifat
buruk seperti ini, maka didalam Al Qur’an setelah Surah Al-Ma’un yang
menyebutkan sifat-sifat yang burruk seperti ini, Allah mengingatkan kepada kita
agar ditutupinya dengan Surah Al-Kautsar yang Allah menurunkan setelah Surah Al
Ma’un,
“(1) Sungguh,
Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. (2) Maka laksanakanlah
salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri
kepada Allah). (3) Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang
terputus (dari rahmat Allah).
Perintah berkurban
dalam ayat ini adalah untuk menghilangkan sifat-sifat kikir, adalah untuk
menghilangkan sifat dan mental yang tidak mau peduli terhadap sesame apalagi
terhadap anak-anak yatim yang terlantar dan orang-orang miskin. Kerelaan
berkorban merupakan salah satu factor berbagai kesuksesan dalam mengejar
berbagai ketertinggalan, maka aktualisasi dari tauhid dalam bentuk kepedulian
social dan tanggungjawab kemanusiaan, inilah yang dikenal sebagai kesalehan
social dan kesalehan moral kemanusiaan. Kesalehan seperti inilah yang
sesungguhnya ingin dibentuk dan dilestarikan dalam sejarah kemanusiaan melalui
proses ibadah haji, melalui proses shalat idul adha, dan khususnya melalui
prosesi pelakasanaan ibadah qurban, disinilah kelengkapan dan kesempurnaan
Islam sehingga disebut peletakan batu terakhir dan penyempurnaan Islam.
Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Saat ini
saudara-saudara kita tengah menjalankan prosesi ibadah haji di Mekkah Al
Mukarramah, banyak hikmah dan pelajaran dari prosesi ibadah haji yang bisa kita
ambil dalam rangka meningkatkan kualitas ritual dan spiritual serta
tanggungjawab sosial kemanusiaan. Jamaah haji memakai pakaian ihram yang sama,
berupa dua lembar kain putih seperti kain yang membalut tubuh kita ketika
meninggal dunia. Inilah adalah pelajaran yang mengingatkan kepada kita mengenai
status persamaan kita dihadapan Allah Subhanahuwata’ala yang tidak ada
perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat biasa,
antara pimpinan dan bawahan, antara orang bangsawan dan yang bukan, dan
berbagai status lainnya, semuanya sama dihadapan Allah, yang membedakan hanya
besarnya pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah.
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat: 13)
Sesuai pelaksanaan
shalat idul adha, hari tasyrik hingga 13 Dzulhijjah, prosesi penyembelihan
hewan qurban dilaksanakan, hal ini mengingatkan kita kepada peristiwa Nabi
Ibrahim alaihissalam, yang rela mengorbankan putranya Nabi Ismail alaihissalam,
dan juga keikhlasan istrinya, Hajar, dan juga kepatuhan dan ketundukan seorang
anak terhadap kedua orang tuanya demi meraih keridhaan Allah subhanahuwata’ala
yaitu Nabi Ismail.Dalam Al Qur’an, Allah subhanahuwataala mengingatkan dalam
Surah Al-Kautsar.
Dalam ayat ini ada
dua hal yang diperintahkan, pertama perintah shalat sebagai bentuk upaya
memperkokoh basis kekuatan ritual dan spiritual,
Dan yang kedua
adalah perintah untuk berkurban sebagai bentuk upaya membentuk kesalehan
social, kesalehan moral dan kemanusiaan. Bahwa yang dikorbankan adalah
binatang, agar sifat-sifat kebinatangan yang biasa melekat dalam diri kita
dapat kita sembelih, dapat kita taklukkan, kalau perlu
dibuang jauh-jauh yang jelek. Karena permasalahan yang
paling banyak merusak di tengah-tengah kehidupan social masyarakat adalah
karena kita banyak memperturutkan nafsu kebinatangan, misalnya sifat serakah,
sifat rakus, sifat mau menang sendiri, memperlakukan orang lain sebagai musuh,
sifat sombong dan angkuh, tidak mau mendengar nasihat dan saran, kenyang dari
kelaparan orang lain, ambisi yang tak terkendali, dan sifat-sifat kebinatangan
lainnya, yang mendorong sesorang untuk berbuat menghalakan segala macam
cara demi ambisinya. Maka sifat-sifat buruk seperti inilah yang
seharusnya, yang idealnya kita sembelih dan atau kita taklukkan, maka dengan
menyembelih dan menaklukkan sifat-sifat kebinatangan ini berarti kita mengasah
jiwa pengorbanan, mengasah jiwa kasih sayang, mengasah jiwa ke-setiakawanan,
mengasah jiwa solidaritas social, dan tanggungjawab kemanusiaan, sekaligus
sebagai sebuah pemberdayaan terhadap sesama ummat. Itulah sebabnya setelah
hewan qurban disembelih, dagingnya tidak dimakan dan dinikmati sendiri, tapi
justru didistribusikan dan dibagi-bagikan kepada orang lain sebagai wujud
kesalehan dan takwa social.
“Bukanlah daging
dan darah dari hewan yang anda sembelih itu yang sampai dan diterima Allah,
akan tetapi yang sampai dan diterima Allah adalah nilai ketakwaan dari kalian”
Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Keteladanan Nabi Ibrahim sebagai ayah yang rela
berkorban walaupun anaknya sendiri, Nabi Ismail sebagai anak generasi muda yang
rela berkorban demi untuk tunduk dan patuh pada orang tuanya, dan Hajar sebagai
ibu teladan yang penuh kesabaran dan keikhlasan rela mengorbankan segalanya
demi agama dan keluarga serta Nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam yang
seluruh hidupnya sejak di Mekah sampai di Madinah hingga wafatnya penuh dengan
pengorbanan dan perjuangan. Semuanya ini menunjukkan tanggungjawab sosial dan
kemanusiaan sebagai bentuk kasih sayang pada umatnya, pada kemanusiaan dan
tegaknya ajaran Islam. Maka pengorbanan-pengorbanan seperti inilah yang sangat
penting kita teladani, dan penting kita buktikan sebagai wujud tanggungjawab
social kolektif dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umat dan bangsa.
Mewujudkan kesejahteraan umat dan bangsa ini, tidak hanya tugas dan tanggungjawab
pemerintah saja, akan tetapi merupakan tugas dan tanggungjawab bersama secara
kolektif, maka diperlukan kesadaran kebersamaan untuk saling peduli, untuk
saling mendukung, dan berpartisipasi proaktif dalam memberantas berbagai
ketertinggalan, baik dalam hal ekonomi, dalam pendidikan, maupun lainnya.
Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda dalam hadits diriwayatkan oleh
Imam At-Tirmidzi, yang bersumber dari sahabat Khudzaifah:
“Barangsiapa yang
tidak punya rasa kepedulian terhadap persoalan, khususnya penderitaan yang
menimpa umat Islam, maka hakikatnya tidaklah termasuk golongan mereka.
Dalam hadits lain diriwayatkan oleh Imam Bukhori,
yang bersumber dari An Nu’man Ibnu Basyiir, Rasulullah
shallallahualaihiwassalam bersabda :
“Perumpamaan
seorang mukmin dalam saling kasih sayang, saling sepenanggungan, saling
membantu, adalah seperti satu tubuh,apabila ada anggota tubuh yang sakit maka
anggota tubuh yang lainnya juga merasakan sakit.
Sekecil apapun
pengorbanan kebaikan yang kita berikan kepada sesama kita, apalagi terhadap
masyarakat dan bangsa ini, pasti akan membuka pintu-pintu kebaikan berikutnya
untuk menuju terbukanya kemudahan dan keberkahan dalam hidup dan seluruh usaha
kita.
Allah subhanahu wataala berfirman dalam Al Qur’an :
“Barangsiapa yang
membunuh satu orang bukan karena orang iu membunuh atau bukan karena orang itu
berbuat kerusakan, maka seola-olah orang itu membunuh manusia semuanya. Sebaliknya
siapa yang memelihara kehidupan sesorang, memberi penghidupan terhadap seorang
manusia, maka ia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua
manusia.
Maka menghadapi dan menyikapi berbagai tantangan
saat ini, kita memerlukan jiwa yang rela berkorban, kita memerlukan jiwa yang
besar, jiwa yang ikhlas, jiwa pengabdian, dan jiwa kepahlawanan. Jiwa seperti
ini muncul dan terbangun dengan baik apabila dilandasi dan diinspirasi oleh
semangat agama dan moral, inilah diantara makna dan pesan-pesan idul adha 1440
Hijriyah sebagai bagian dari pengaplikasian tauhid.
Semoga kita menjadi
sebaik-baik manusia yang rela berkorban untuk memberi manfaat kepada sesamanya.
Komentar