Pendidikan Dalam Perspektif Islam : Strategi Sistem Pendidikan di Indonesia Guna Membentuk SDM yang Unggul
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Sewaktu
bom yang meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang terjadi, konon
katanya orang-orang Jepang bukan hanya mempertanyakan tentang kerugian material
dari hancurnya barang-barang dan berapa banyak yang tersisa, yang ditanyakan
justru berapa jumlah guru yang masih tersisa. Hal ini menggambarkan bagaimana
kepedulian negara tersebut terhadap yang namanya pendidikan. Sama dengan
Jepang, negeri jiran Malaysia juga sangat memperhatikan kualitas pendidikannya.
Dahulu tenaga pendidik Indonesia bahkan dikirim ke Malaysia untuk mengajar,
ternyata orang-orang Malaysia sendiri juga sedang bertebaran di belahan bumi
lainnya untuk menempuh pendidikan dan kemudian kembali untuk membangun
negaranya. Alhasil, kita bisa melihat bagaimana perkembangan yang terjadi di
Malaysia. Dulunya orang-orang Malaysia banyak datang berguru ke Indonesia. Sekarang
justru sebaliknya, orang Indonesia yang justru banyak merantau ke Malaysia
untuk menempuh pendidikan. Serta masih banyak lagi contoh lain negara maju sejalan dengan kualitas pendidikannya.
Sehingga
tidak mengherankan kemudian jika data UNESCO pada tahun 2013 menyebutkan
Indonesia menduduki peringkat 121 dari 185 negara ditinjau dari mutu pendidikannya.
Hal ini tentu menjadi tanggungjawab kita bersama untuk meningkatkannya, khususnya
bagi umat Islam yang sangat menekankan tentang pentingnya mengoptimalkan fungsi akal, dalam konteks ini pendidikan. Islam sebagai agama
yang universal memberikan pedoman hidup (way of life) bagi manusia menuju
kebahagiaan hidup lahir dan batin, serta dunia dan akhirat. Kebahagiaan hidup
manusia itulah yang menjadi sasaran hidup manusia yang pencapaiannya juga sangat
bergantung pada pendidikan. Selain itu, pendidikan merupakan kunci
untuk membuka pintu ke arah modernisasi. Modernisasi hanya bisa dicapai
melalui pemberdayaan pendidikan. Dengan demikian, modernisasi juga menjadi
tujuan ajaran Islam. Akan tetapi modernisasi yang menjadi tujuan Islam itu
harus sesuai dengan tolok ukur ajarannya. Untuk itu, dalam rangka menuju tujuan
tersebut, agama ini telah memiliki konsep terkait pendidikan.
Rumusan
Masalah
- Bagaimana strategi konsep pendidikan guna membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul ?
PEMBAHASAN
Tujuan Pendidikan
Nasional
Definisi pendidikan menurut KBBI yaitu "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik". Sedangkan pengertian pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 1 bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.
Pendidikan
nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem
pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait
secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Peserta didik adalah
anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator,dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. (UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional)
Pendidikan Islam
Prinsip
penyelenggaraan pendidikan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 pada Pasal 4 Bab III
yaitu “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,
nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”. Dalam penjelasan tersebut disebutkan
bahwa salah satu yang perlu dijunjung tinggi adalah nilai keagamaan, lalu diperjelas
lagi pada Pasal 12 ayat I (a), mengatur hak peserta didik untuk mendapatkan
pendidikan agama di sekolah sesuai agama yang dianutnya dan diajarkan oleh
pendidik yang seagama. Artinya setiap peserta didik berhak untuk mendapatkan
pendidikan agama apapun latar belakang agama yang dianutnya termasuk agama
Islam.
Syed
M. Naquib Al-Attas, seorang pemikir pendidikan dalam karya monumentalnya The Concept of Education In Islam: A
Framework for an Islamic Philosophy of Education. Al-Attas mencetuskan dan
menawarkan bahwa konsep atau istilah yang tepat, benar, dan relevan untuk
pendidikan adalah konsep ta’dib, bukan
ta’lim, tarbiyah, ataupun konsep yang lainnya. Karena menurut Al-Attas
konsep tarbiyah hanya menekankan aspek fiskal dan emosional manusia (karena
proses tarbiyah ini tidak hanya untuk manusia, tetapi berlaku untuk hewan dan
tumbuh-tumbuhan, oleh karena itu konsep tarbiyah ini kurang tepat untuk istilah
pendidikan bagi manusia). Sedangkan konsep ta’lim secara umum hanya menekankan
pada transfer of knowledge (aspek
kognitif) dan pengajaran. Agar proses pendidikan berjalan secara komprehensif-
yakni mencakup ranah kognitif, psikomotorik, dan ranah afektif, maka Al-Attas
menawarkan konsep ta’dib bagi
pendidikan, karena konsep ini sudah mencakup konsep ta’lim dan tarbiyah sekaligus.
Menurut Al-Attas, pendidikan adalah penyemaian dan internalisasi (penanaman)
adab dalam diri seseorang, oleh karena itu proses pendidikan disebut dengan ta’dib. Pendapat ini dijustifikasi dari
hadits yang berbunyi: “Tuhanku telah
mendidikku (addabani), maka ia menjadikan pendidikanku dengan sebaik-baiknya
pendidikan”. Addabani dalam konteks hadits ini mengandung pendidikan
akhlak. De facto, bahwasanya
pendidikan Nabi Muhammad saw. dijadikan Allah swt. sebagai pendidikan yang
terbaik didukung oleh Al Qur’an yang mengafirmasikan kedudukan Rasulullah yang
akram (mulia), role model (uswatun hasanah) yang baik. Hal ini
kemudian dikonfirmasikan oleh hadits Nabi yang menyatakan bahwa misi kerasulannya
adalah untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak manusia. Seseorang yang
paling sempurna imannya- menurut Rasulullah- adalah orang yang paling baik
akhlaknya. Sedangkan menurut Al-Attas orang yang terdidik atau terpelajar
adalah orang baik (good man). Orang
baik adalah “Orang yang menyadari sepenuhnya tanggungjawab dirinya kepada Tuhan
Yang Haq; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan
orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek
dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.
Karena
alasan-alasan inilah orang-orang bijak, para cerdik cendekia dan para sarjana
di antara orang-orang Islam terdahulu mampu mengkombinasikan ilmu, amal, dan
adab, dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan.
Pendidikan dalam kenyataannya adalah ta’dib, karena adab sebagaimana
didefinisikan, telah mencakup ilmu dan amal sekaligus. Dengan begitu, tujuan
pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang beradab.
Adab dan Tujuan Pendidikan Dalam
Islam (Syed Naquib Al-Attas)
Syed
Naquib Al-Attas menjelaskan bahwa jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh
mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab dalam kehidupan. Konsep
adab memang sangat terkait dengan pemahaman tentang wahyu. Orang beradab adalah
yang dapat memahami dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan harkat
dan martabat yang ditentukan oleh Allah. “Orang baik” atau good man, bisa dikatakan sebagai manusia yang memiliki berbagai
keutamaan dalam dirinya. Dengan berpijak kepada konsep adab dalam Islam, maka
“manusia yang baik” dan “manusia yang beradab”, adalah manusia yang mengenal
Tuhannya, mengenal dan mencintai Nabinya, menjadikan Nabi saw. sebagai uswah hasanah, menghormati para ulama sebagai
pewaris Nabi, memahami dan meletakkan ilmu pada tempat yang terhormat-memahami
mana ilmu yang fardhu ain, dan mana yang fardu kifayah; juga mana ilmu yang
bermanfaat dan ilmu yang merusak- dan memahami serta mampu menjalankan tugasnya
sebagai khalifatullah fil-ardh dengan
baik.
Nabi
Muhammad saw. berhasil membangun peradaban Islam di Madinah, yakni suatu
masyarakat yang menegakkan adab dalam kehidupan mereka. Masyarakat beradab-
menurut Islam- adalah masyarakat yang memuliakan orang yang berilmu, orang yang
saleh, dan orang yang bertakwa; bukan orang yang berkuasa, banyak harta, keturunan
raja, berparas rupawan, dan banyak anak buah. Karena itu, jika ingin merujuk
kepada konsep Islam tentang adab, pemimpin yang baik adalah yang mampu
mengembangkan masyarakat yang beradab. Manusia memang sama-sama manusia, tetapi
Allah swt. sudah membeda-bedakan harkat dan martabat manusia sesuai dengan
keilmuan, keimanan, dan ketakwaannya. Inilah adab dalam konsep Islam. Karena
pentingnya penegakan “adab” di tengah masyarakat Muslim, maka pakar pendidikan
dan pemikiran Islam, Syed Naquib Al-Attas, sudah mengajukan istilah “ta’dib” untuk suatu proses pendidikan,
yang tujuannya adalah membentuk manusia yang beradab, atau manusia yang baik (a good man). Dengan itu, tujuan
pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang beradab.
Sebagaimana Buya Hamka pernah berkata bahwa pengajaran
dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Bangsa yang hanya mementingkan
pengajaran saja, tiada mementingkan pendidikan untuk melatih budi pekerti,
meskipun kelak tercapai olehnya kemajuan, namun kepintaran dan kepandaian itu
akan menjadi racun, bukan menjadi obat. Pendidikan adalah untuk membentuk watak
pribadi. Manusia yang lahir ke dunia ini supaya menjadi orang yang berguna
dalam masyarakatnya. Supaya dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Mengubah Cara Kita
Memikirkan Da’wah (Pendidikan)
Dalam
buku Dari Gerakan ke Negara, pada bab Mengubah Cara Kita Memikirkan Dakwah, Anis Matta
menjelaskan bahwa Generasi pertama para pemikir dakwah, seperti Al-Banna,
Al-Maududi, Sayyid Qutb dan lainnya, memfokuskan perhatian pada pembangunan
ideologi. Generasi kedua seperti Muhammad Al-Ghazali, Yusuf Al-Qardhawi, Fathi
Yakan, dan lainnya memfokuskan perhatiannya pada pembangunan kerangka pemikiran
pergerakan. Lalu ketika gerakan dakwah memasuki era keterbukaan,
bermetamorfosis menjadi institusi terbuka, bermain di domain publik, memasuki
pusat-pusat kekuasaan, persoalan terbesar kita adalah sumber daya. Melihat
realitas tersebut, persoalan sumber daya ini muncul karena pusat perhatian
pikiran kita belum bergeser dari tema besar generasi dan generasi kedua para
pemikir dakwah. Kita masih bicara ideology dan belum bicara sumber daya. Kita
masih bicara system pemerintahan Islam dan belum bicara kompetensi kepemimpinan
ummat. Kita masih bicara slogan “Islam adalah solusi” dan belum bicara agenda
aksi penyelesaian persoalan bangsa. Kita masih bicara kegagalan musuh, dan
belum berbicara kesuksesan-kesuksesan kita. Kita masih bicara ghazwul fikri, dan belum berbicara
strategi kebudayaan. Kita masih bicara konspirasi asing, dan belum berbicara
system pertahanan dakwah. Kita masih bicara fiqhul
ikhtilaf, dan belum bicara manajemen organisasi. Kita masih bicara sabar
dalam mensiasati keterbatasan dana, dan belum berbicara cara mencipatakan
kelimpahan dana. Kita masih bicara apa yang kita inginkan, dan belum bicara
sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya.
Apa
yang disampaikan dalam dalam konteks dakwah diatas mungkin sama halnya dengan
realitas yang dialami pendidikan kita (pendidikan Islam) hari ini. Selama pusat
perhatian pikiran kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumber daya-sumber
daya, selama itu kita akan mengalami kemunduran dan keterpurukan. Ini hanya
konsekuensi antara ketidakseimbangan antara beban dan daya pikul.
Pemikiran Pendidikan Islam (Ibn
Taimiyah)
Ada
dua hal penting yang menjadi orientasi utama pemikiran pendidikan dalam
menghadapi krisis pendidikan. Pertama, usaha untuk menemukan kembali konsep
filosofis pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai luhur Islam. Kedua, usaha
untuk menyesuaikan konsep pendidikan Islam tersebut dengan tuntutan dan
kebutuhan masyarakat. Secara filosofisnya semua bentuk pendidikan Islam
bermuara pada suatu substansi tunggal. Beberapa bidang ilmu dan perspektif
intelektual yang berkembang dalam Islam pada prinsipnya kembali pada satu
substansi, yaitu pengetahuan tentang Yang Maha Esa. Kondisi gambaran umum umat
Islam pada masa hidup Ibn Taimiyah. Beragamnya pandangan hidup yang diposisikan
sebagai standar nilai-nilai kebenaran dalam masyarakat akhirnya memicu
munculnya beragam system pendidikan yang berkembang dalam dunia Islam. Posisi
penting pendidikan mendorong Ibn Taimiyah untuk meletakkan pendidikan Islam
pada prinsipnya yang paling mendasar. Belajar dikembalikan pada pengertiannya
sebagai usaha menuntut ilmu yang merupakan perintah ibadah, mengajarkan ilmu
kepada orang ain merupakan benduk shadaqat, melakukan kajian keilmuan merupakan
bagian dari jihad dan pengangungan Asma Allah SWT. Anak didik bukan hanya
terbatas dalam kelas, sekolah atau halaqah di masjid saja, tetapi adalah
berorientasi kepada seluruh masyarakat dengan tetap berprinsip amar ma’ruf nahi mungkar.
Desain
metode pendidikan yang digagas Ibn Taimiyah ini mengarah pada pentingnya
keseimbangan antara unsur penalaran dan aplikasi dalam proses pendidikan. Hal ini
sesuai dengan pendapatnya tentang dwi tunggal potensi yang dimiliki manusia,
yaitu potensi ilmiyyat dan iradat. Dengan potensi pertama, manusia
bisa berpikir dan akhirnya mendapat ilmu dan pengetahuan. Sementara dengan
iradat dimana dengan kecenderungan amal yang dimilikinya, manusia tergerak
untuk menerapkan ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya dalam bentuk perbuatan
yang nyata. Syarat-syarat yang harus dijaga dalam menggunakan metode-metode
pendidikan agar dalam proses belajar mengajar itu dapat berjalan dengan lancar
sesuai dengan kehendak yang hendak dicapai, maka yang harus diperhatikan adalah
hal-hal berikut: Pertama, perhatian terhadap persiapan dan kemampuan pelajar.
Ibn Taimiya berkomentar: Al-Wus’u atau kemampuan adalah sesuatu yang dikuasai oleh
jiwa, dengan demikian jiwa itu tidak merasa kesulitan dan tidak lemah untuk
menggerakkannya. Sebagaimana firman Allah: “Allah
menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Kedua,
tahapan dalam belajar. Dalam proses mencari ilmu seorang murid harus didasari
dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah semata. Murid juga harus sabar
dan tekun sebab dalam prosesnya akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan
kemudahan. Ketiga, kesempurnaan ilmu dan pengetahuan adalah adanya perpaduan
antara teori dan praktek. Tujuannya agar adalah untuk mengembangkan daya pikir
dan membantu menuju proses kematangan dan kesempurnaan pribadi anak didik.
Pendidikan Keluarga: Pendidikan Awal
dan Paling Utama (Buya Hamka dan Ibnu Qayyim)
Madrasah
atau pendidikan pertama yang kita jumpai dalam kehidupan adalah pendidikan
keluarga. Sebab disini adalah awal pertama kali kita menjalani kehidupan. Pendidikan
harus didasarkan kepada kepercayaan, bahwa di atas dari kuasa manusia ada lagi
kekuasaan Maha Besar. Itulah Tuhan. Sebab itu pendidikan modern tidak bisa
meninggalkan agama. Kecerdasan otak tidaklah menjamin keselamatan kalau nilai
rohani keagamaan tidak dijadikan dasarnya. Bagi anak-anak yang masih kecil
didikan agamalah yang perlu, belum ilmu agama. Karena pelajaran agama mudah
masuk asal dasar iman sudah ada lebih dahulu. Dalam agama Islam sudah ada
aturan mendidik anak-anak dalam agama. Usia 7 tahun anak iti disuruh shalat
oleh ibu bapaknya. Dan kalau usianya telah 10 tahun, belum juga dia shalat,
masih malas-malas dia mengerjakan, sudah boleh dipukul. Tetapi apa boleh
dikata, kalau iman orang tua sendiri lemah. Anaknya hanya diserahkannya kepada
suatu sekolah. Di sekolah itu yang ada hanya mengajarkan pengajaran, bukan
pendidikan. Kalaupun ada pendidikan, hanyalah pendidikan yang salah, pendidikan
yang menghilangkan pribadi. Banyak ilmunya tetapi budinya kurang. Kesudahannya
banyaklah kelihatan anak-anak muda yang tidak tentu tujuan hidupnya. Tidak
dapat berkhidmat kepada tanah air tumpah darahnya. Bagaimana akan berkhidmat
dia sendiri tidak mengenal asal usulnya.
Berkata
Hukama, “Hendaklah adab sopan anak-anak itu dibentuk sejak dari kecilnya.
Karena ketika kecilnya masih mudah membentuk dan mengasuhnya. Belum dirusakkan
oleh adat kebiasaan yang sukar meninggalkan. Tiap-tiap manusia, apabila telah
terbiasa mengerjakan dan menabiatkan suatu pekerti sejak kecilnya – yang baik
atau yang buruk – sukarlah membelokkannya kepada yang lain, apabila dia telah
besar. Padahal masa jadi anak-anak itu hanya sebentar”.
Dari
hal tersebut, hendaknya pendidikan tentang keluarga ini menjadi perhatian bagi
pemerintah. Wacana kuliah pra-nikah bisa menjadi suatu gagasan yang patut
dipertimbangkan untuk diterapkan. Sebab komunitas keluarga inilah yang menjadi
tempat belajar pertama bagi anak-anak, ketika dia mendapat didikan dan teladan
yang baik sejak dari komunitas terkecilnya maka hal tersebut akan terus ia bawa
hingga di komunitas yang lebih besar hingga di kehidupan masyarakat yang lebih
luas. Berapa banyak anak-anak yang hidupnya menjadi berantakan dikarenakan
keluarga yang tidak harmonis, tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Hal-hal
yang tentunya menjadi hak dasar bagi setiap anak yang belum memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang banyak dalam menjalani hidup. Maka terjadilah
banyak kenakalan anak/remaja, karena mereka mencari pelampiasan diakibatkan
kekecewaan yang ia hadapi di dalam kehidupan keluarga. Ada banyak kasus seperti
itu yang terjadi, dan setelah diselidiki akar permasalahannya, ternyata
disebabkan oleh keluarganya sendiri, tempat yang seharusnya pertama kali ia
mendapatkan hak-hak dasar.
Selain
itu, ada juga tips melaksanakan 9 jenis tarbiyah yang digali Ibnu Qayyim
rangkuman Dr. Hasan al-Hijazy:
(1) Tarbiyah
Imaniyah (Mendidik Iman)
Ada tiga sarana
(wasilah) untuk mendidik iman. Pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari,
menghayati) tanda-tanda kekuasaan Allah Dzat Pencipta serta keluasan rahmat dan
hikmah perbuatan-Nya. Tadabbur ini bisa dilakukan dengan penglihatan biasa
(bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabburi
kekuasaan Allah, hasil-hasil ciptaan-Nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan
penciptaan manusia, juga ayat-ayat al-Qur’an.
Kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. Ketiga, mendalami
fungsi semua jenis ibadah-ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman. Caranya
dengan banyak mengerjakan amal saleh yang sendi utamanya adalah keikhlasan;
juga memperbanyak doa dan harapan kepada Allah semata; menghindari riya dalam
berkata dan bertindak; mencintai firman Allah; berkeyakinan bahwa kelak akan
berjumpa langsung dengan Allah; terkahir, melanggengkan rasa syukur dalam
keadaan apapun.
(2) Tarbiyah
Ruhiyah (Mendidik Pikiran)
Ibnu Qayyim 7 cara melakukan
ruhiyah, yaitu memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan Allah
seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan, memperbanyak
dzikir dan shalat, melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari sebelum
tidur’ mentadabburi makhluk Allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan,
ketauhidan, dan kesempurnaan sifat Allah serta mengagungkan, menghormati, dan
mengindahkan seluruh perintah dan larangan Allah.
(3) Tarbiyah
Fikriyah (Mendidik Pikiran).
Kegiatan tafakkur (merenung/berkontemplasi)
menurut Ibnu Qayyim adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan
tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan. Dengan tafakkur, seseorang
bisa membedakan antara yang hina dan mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang
buruk. Kata Imam Syafi’I “Minta tolonglah
atas pembicaraanmu dengan diam dan analisamu dengan tafakkur”. Ibnu Qayyim
mengomentari kalimat itu dengan berkata “yang demikian itu dikarenakan tafakkur
adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan
hati itu lebih mulia daripada jawarih. Disamping itu, tafakkur bisa membawa
seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata. “Sebaik-baik tafakkur adalah saat membaca
Al-Qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal Allah).”
(4) Tarbiyah
Athifiyah (Mendidik Perasaan)
Naluri (insting),
kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan
perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia. Sedangkan cinta adalah
perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia
melakukan apapun. Maka Ibnu Qayyim membeli 11 resep menduduk perasaan cinta,
yaitu: menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan
Allah, bukan yang lain; meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi
milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta; mengokohkan perasaan bahwa
pemilik segala sesuatu di dunia ini Allah semata; beribadah kepada Allah dengan
nama-namanya yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin demi menumbuhkan
rasa fakir (butuh) kepada Allah; bersikap tegas bahwa tak ada yang lebih tinggi
dan mulia kedudukannya sesudah Allah; Menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak
nikmat Allah dan betapa banyak kelemahan kita; menanamkan ma’rifat bahwa Allah lah
yang telah menciptakan semua perbuatan hamba-Nya dan telah menananamkan iman di
dalam hatinya; menanamkan perasaan butuh pada hidayah Allah dalam setiap detik
kehidupannya; serius memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan Allah dalam
menghadapi apapun; menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-Nya yang
begitu banyak; serta, menanamkan ilmu bahwa cinta kepada Allah merupakan
tuntutan iman.
(5) Tarbiyah
Khuluqiyah (Mendidik Akhlak)
Misi utama Rasulullah
di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Contoh-contoh utama akhlak
mulia yang diharapkan dari seorang muslim adalah sabar, syaja’ah (keberanian),
al-itsar (mendahulukan kepentingan orang lain, syukur, jujur, dan amanah. Cara
pendidikan akhlak yang mulia itu adalah: Pertama, mengosongkan hati dari itikad
dan kecintaan kepada segala hal yang batil. Kedua, mengaktifkan dan menyertakan
seseorang dalam perbuatan baik (al-birr). Ketiga, melatih dan membiasakan
seseorang dalam perbuatan baik itu. Keempat, memberi gambaran yang buruk tentang
akhlak tercela. Kelima, menunjukkan bukti-bukti nyata sebagai buah dari akhlak
yang mulia.
(6) Tarbiyah
Ijtimiyah (Mendidik Bermasyarakat)
Pendidikan
kemasyarakatan yang baik adalah, yang selalu memperhatikan perasaan orang lain.
Seorang muslim dalam masyarakat, tidak dibenarkan menyakiti saudaranya walaupun
hanya dengan menebarkan bau yang tidak enak. Bahkan Ibnu Qayyim berpendapat,
tidak cukup hanya tidak menyakiti perasaan, seorang muslim harus mampu
membahagiakan dan menyenangkan hati saudara-saudara di sekitarnya.
(7) Tarbiyah
Iradiyah (Mendidik Cita-Cita)
Tarbiyah
iradiyah berfungsi mendidik setiap muslim untuk memiliki
kecintaan terhadap sesuatu yang dicita-citakan, tegar menanggung derita di
jalannya, sabar dalam menempuhnya mengingat hasil yang kelak akan diraihnya
serta melatih jiwa dengan kesungguhan dalam beramal. Tanda-tanda iradah yang
sehat adalah, kegelisahan hati dalam mencari keridhaan Allah dan persiapan untuk
bertemu dengan-Nya. Seseorang yang iradah-nya sehat, juga akan bersedih karena
menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah. Sedangkan iradah
yang rusak akan lahir dalam bentuk penyakit ilmu, pengetahuan, dan keahlian
yang berlawanan dengan syariah Allah.
(8) Tarbiyah
Badaniyah (Pendidikan Jasmani)
Seorang muslim harus
secara terprogram memperhatikan unsur badan, menjaganya dan memenuhi hak-haknya
secara sempurna. Perhatian yang demikian akan mengantarkan seseorang pada
ketaatan penuh dan kesempurnaan dalam menjalankan semua yang diwajibkan Allah
kepadanya. Tarbiyah badaniyah ini meliputi: pembinaan badan di waktu sehat,
pengobatan di waktu sakit, pemenuhan kebutuhan gizi, serta olah raga (tarbiyah
riyadliyah)
(9) Tarbiyah
Jinsiyah (Pendidikan Seks)
Tarbiyah jinsiyah bisa
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: memperbanyak pembicaraan tentang
bahaya-bahaya zina dan berbagai kerusakan yang ditimbulkannya termasuk ancaman
dosa zina; menyebarluaskan peringatan dan penjelasan tentang bahaya serta
kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan perilaku homoseksual; menjadikan kebiasaan
untuk membatasi pandangan mata sebagai kebudayaan di tengah masyarakat; tidak
berkata-kata maupun melangkahkan kaki kecuali kepada hal-hal yang pasti
mendapat pahal dari Allah; menyatakan perang terhadap semua bentuk nafsu dan
keinginan yang buruk; meniadakan waktu yang kosong; memperbanyak ibadah sunnah;
melarang anak-anak bergaul dengan teman yang buruk akhlaknya; melarang anak-anak
dengan keras untuk mendekati khamr (minuman keras); serta melindungi anak dari
penyimpangan fitrah kelaminnya.
Membangun Kembali Peradaban
Konsep
tentang pendidikan di dunia Islam sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu,
bahkan sejak zaman kenabian pun. Bagaimana Rasul mendidik para sahabatnya, yang
kemudian diteruskan dan dilanjutkan hingga melalui proses yang panjang sampai
kepada kita Umat saat ini. Dunia Islam pernah mengalami kemajuan ilmu
pengetahuan, sains, dan budaya yang luar biasa pesat, masa ini dikenal dengan
masa keemasan Islam (The Golden Age of
Islam). Pada masa pemerintahannya, Khalifah Harun Ar-Rasyid mendirikan
Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yaitu perpustakaan, lembaga penerjemah, dan
pusat penelitian. Baitul Hikmah menjadi salah satu kunci masuknya literatur
asing (barat) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab dan sebagai
jembatan dalam proses transfer ilmu pengetahuan pada zaman keemasan Islam.
Baitul Hikmah mencapai puncaknya dimasa kepemimpinan Ma’mun Ar-Rasyid,
putranya. Sepanjang abad ke-9 hingga ke-13, banyak ilmuwan termasuk yang
berlatarbelakang Persia maupun Kristen ikut ambil bagian pada penelitian dan
pendidikan pada lembaga ini. Dibawah kepemimpinannya, observatorium didirikan,
Baitul Hikmah telah menjadi pusat studi
ilmu pengetahuan dan studi humaniora yang terbaik pada masa abad pertengahan
Islam, meliputi bidang matematika, kedokteran, astronomi, kimia, zoology, dan
geografi. Tidak hanya dari bangsa barat, literatur-literatur dari Yunani, Persia, dan India juga dikumpulkan,
para ilmuwan telah mengoleksi pengetahuan-pengetahuan dunia. Pada pertengahan
abad 9 masehi, Baitul Hikmah menjadi repository terbesar dari buku-buku dunia.
Beberapa ilmuwan yang dikenal dan memiliki hubungan dengan Baitul Hikmah yaitu
Al Khawarizmi (780-850), ahli matematika; Al-Jahiz (781-861), penulis dan ahli
biologi; Al-Jazari (1136-1206), Ahli fisika dan teknisi. Periode yang cukup panjang ini (sekitar 500
tahun), bisa dikatakan tidak ada peradaban yang bisa menandingi pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, mulai dari Eropa, Cina, India,
semuanya salut dengan kegigihan kekhalifahan yang menjunjung tinggi ilmu
pengetahuan melebihi peradaban manapun pada masa itu. Pada tahun 1258 M,
terjadi penyerangan Baghdad oleh invasi pasukan Hulagu Khan, Baitul Hikmah
beserta literatur-literatur didalamnya ikut dihancurkan. Hanya sedikit yang
tersisa dan berhasil diselamatkan oleh salah seorang ilmuwan lain bernama
Al-Tusi, yang membawa kabur naskah-naskah yang berhasil diselamatkan ke Observatorium
Maragheh (Azerbaijan), yang kemudian berjasa memberikan jalan untuk munculnya
era renaissance di Eropa. Berbagai
penemuan dan penelitian dengan jumlah yang besar di dunia Islam memberi
sumbangsih terhadap Eropa abad pertengahan yang mempengaruhi berbagai bidang di
Eropa seperti seni, arsitektur, kedokteran, pertanian, bahasa, teknologi, dll.
Sejarah singkat yang dijelaskan diatas hanyalah sedikit dari cerita panjang
tentang kejayaan Islam dimasa silam, dan masih banyak lagi yang mesti kita gali
dan ketahui.
Kejayaan
Islam terakhir kali kita saksikan dimasa kepemimpinan Muhammad Al Fatih yang
berhasil menaklukkan Konstantinopel dan memperluas wilayah kekuasaan Islam. Muhammad
Al-Fatih bukan hanya sekedar seorang pemimpin militer. Ia sangat memperhatikan
sisi keilmuan dengan sangat maksimal. Beliau mendirikan banyak sekolah dan
institut, berusaha untuk memanggil para ulama dan sastrawan dari berbagai
penjuru dunia, dan bekerja untuk mengembangkan metode pengajaran. Beliau juga
mendirikan perpustakaan besar di masjid yang dibangun di Konstantinopel, dan
melakukan penerjemahan buku-buku referensi asing dalam berbagai cabang ilmu,
khususnya kedokteran, farmasi, dan falak. Pada sekolah-sekolah ini juga
disiapkan asrama-asrama untuk para siswa. Disana mereka tidur dan makan. Untuk
makanan mereka mendapat bantuan keuangan bulanan. Lalu di samping masjid itu,
ia membangun sebuah perpustakaan khusus. Kurikulum sekolah itu juga mencakup
sistem spesialisasi, dimana ilmu-ilmu wahyu dan nalar berada dalam jurusan
tersendiri dan ilmu-ilmu aplikatif juga berada dalam jurusan tersendiri.
Masjid Sebagai Penggerak Peradaban
Contoh
Masjid Kampus yang sangat berkembang dengan program pembinaannya adalah masjid
kampus pertama yang dibangun di Indonesia, yaitu Masjid Salman di Institut
Teknologi Bandung (ITB), meski ITB terkenal dengan ilmu teknologinya namun
tidak melupakan aspek pembinaan melalui berbagai macam program yang tidak hanya
untuk mahasiswa saja, tapi juga bagi masyarakat secara umum yang melibatkan
mahasiswa dan sivitas akademik sebagai penggeraknya. Hal ini mengingatkan lagi
kita akan peran masjid pada masa Rasulullah dimana masjid menjadi pusat peradaban,
bukan sekadar disempitkan sebagai tempat ibadah ritual (shalat) semata. Masjid
Salman, selain membina mahasiswa di asrama yang berada di kawasan masjid,
lingkup kegiatan utamanya yaitu pelayanan ibadah, dakwah, dan pembinaan
generasi muda. Kemudian kegiatan pendukungnya meliputi kursus dan pelatihan
profesional, penerbitan dan multimedia, dan layanan lain seperti Salman Reading
Corner, lapangan futsal, ruang serbaguna dan kelas; pengelolaan zakat, infak,
sedekah & wakaf; BPR Syariah Al-Salaam, minimarket, aneka kios, kantin,
hingga air minum gratis. Contoh Masjid Salman ini perlu menjadi contoh bagi
masjid-masjid kampus lain di Indonesia. Bukan hanya untuk kawasan pendidikan
saja tapi juga untuk masjid secara umum seperti Masjid Istiqlal, Masjid
Jogokariyan di Yogyakarta, dan masjid-masjid dan Islamic center lain yang
tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
Strategi Pendidikan Islam Demi
Terciptanya SDM Unggul
Kisah
kejayaan pendidikan Islam dimasa lampau mesti kita jadikan sebagai contoh untuk
melanjutkan kejayaan dan peradaban itu sampai saat ini. Tradisi keilmuan
hendaknya menjadi perhatian bagi kaum Muslim. Adapun metode dan strategi yang
digunakan ada bermacam-macam tergantung dengan kondisi saat itu. Namun, apa
yang telah diterapkan dimasa lampau tadi masih relevan untuk diterapkan sampai
sekarang, seperti sekolah-sekolah yang berbasis asrama/pondok (boarding school). Konsep ini yang
diterapkan di institusi-institusi pendidikan seperti pesantren, mulai dari
jenjang SMP hingga pendidikan tinggi (kuliah). Sistem ini akan menunjang proses
belajar-mengajar dengan baik, lingkungan pendidikan dimana para peserta didik (siswa)
tinggal bersama dalam satu kawasan sekolah/madrasah/kampus, bukan hanya untuk
para siswa namun juga bagi tenaga pendidik, sehingga interaksi pengetahuan bisa
lebih terbangun. Peserta didik kapanpun bisa berdiskusi dengan gurunya.
Aktivitas kegiatan yang positif juga terbangun di sekolah yang berbasis asrama
ini karena kegiatan telah terjadwal dan tersusun rapi mulai dari pagi sampai
sore, bahkan hingga malam hari. Berbeda dengan sekolah/institusi pendidikan
umum yang prosesnya biasanya hanya berlangsung hingga sore hari, itupun porsi
ilmu dunia tidak diimbangi dengan ilmu agama yang juga sangat penting untuk
akhlak para peserta didik. Konsep seperti ini perlu untuk dipertimbangkan lagi
oleh pemangku pendidikan.
Sama
halnya pada tingkat pendidikan tinggi. Terdapat beberapa tempat pembinaan
mahasiswa seperti asrama mahasiswa (ramsis) yang berada di kawasan kampus dan
biasanya disediakan oleh pihak universitas, tapi sayangnya asrama tersebut
masih sebatas tempat untuk tinggal saja, program-program kegiatan belum
direncanakan, meski di beberapa kampus ada juga yang membuat berbagai program
pembinaan tergantung kebijakan masing-masing pengelola ramsis. Selain itu di
kampus juga terdapat kesempatan untuk tinggal dan mengelola kegiatan di Masjid
Kampus masing-masing. Seperti yang dibahas pada pembahasan sebelumnya terkait
peran masjid sebagai penggerak peradaban. Diluar kampus juga terdapat program
pembinaan mahasiswa yang merupakan program dari beberapa yayasan, organisasi,
dan sebagainya sebut saja seperti Rumah Kepemimpinan (RK), Bakti Nusa (Dompet
Dhuafa), Inisiatif Zakat Indonesia dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan
sebagainya. Ada juga pesantren mahasiswa, pembinaan khusus bagi mereka yang
ingin fokus menghafalkan Al-Qur’an. Program-program
beasiswa ini memberi banyak manfaat dengan berbagai program yang telah
direncanakan dan disusun sedemikian rupa untuk tidak hanya memberi manfaat
dalam bentuk materi saja, tapi lebih penting dari itu bertujuan untuk
menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dari segi kepribadian dan memberi
dampak yang besar bagi lingkungan dan masyarakat. Beasiswa seperti ini tentu
melalui tahapan yang tidak mudah, baik dari pemberi beasiswa selaku pengelola
maupun bagi penerima manfaat beasiswa. Mereka mengikuti proses seleksi yang
ketat dan menjalani program pembinaan yang tidak mudah demi menempa diri, didik
untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berkarakter.
Konsep Strategi Peningkatan
Kualitas Tenaga Pendidik
Di Indonesia terdapat yang namanya
pendidikan kedinasan berikut sekolah kedinasannya. Pendidikan kedinasan adalah
pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh Kementerian, kementerian lain,
atau lembaga pemerintah nonkementerian yang berfungsi untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai
negeri dan calon pegawai negeri. (Bab 1 Pasal 1. PP Nomor 14 Tahun 2010 tentang
Pendidikan Kedinasan). Peserta didik pendidikan kedinasan memiliki hak:
memperoleh biaya pendidikan kedinasan sesuai dengan keahlian tertentu yang
diikutinya; memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang proses
pembelajaran; mendapat bimbingan dari pendidik dan tenaga kependidikan dalam
rangka penyelesaian studinya; dan memperoleh layanan informasi mengenai program
pendidikan yang diikutinya serta hasil belajarnya. (Pasal 11 Bab V Peserta
Didik).
Sistem pendidikan
kedinasan dalam hal ini sekolah kedinasan bisa menjadi contoh untuk diterapkan
juga pada bidang pendidikan, khususnya strategi dalam upaya peningkatan
kualitas tenaga pendidik. Dimana calon tenaga pendidik (guru, dosen, ustadz, dsb)
dipersiapkan melalui proses pendidikan dengan sistem sekolah kedinasan. Pasal
13 Bab VII tentang Pendanaan berbunyi “Pendanaan pendidikan kedinasan bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau sumber lain yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.“ dan Pasal 12 Bab VI tentang
Sarana dan Prasarana “Pengelolaan sarana dan prasarana yang diperoleh dengan
dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada
penyelenggara pendidikan kedinasan diselenggarakan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan”. Konsep tersebut diharapkan dapat meningkatkan
lagi kualitas calon tenaga pendidik. Sebagaimana dengan sekolah kedinasan lain
seperti PKN-STAN, STIS, dan sebagainya yang peminatnya tinggi peminatnya sebab
prospek kerja dan tingkat kesejahteraan yang bisa dikatakan baik dan terjamin.
Dimana calon tenaga pendidik diseleksi sebagaimana ujian masuk perguruan tinggi
lainnya, selanjutnya yang dinyatakan lulus akan menempuh pendidikan dengan sistem
pendanaan yang telah diatur, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Tentu konsep
tersebut membutuhkan banyak kajian lagi, tapi fokus utama dari konsep tersebut
adalah lebih ke bagaimana menciptakan tenaga pendidik yang mumpuni dan
berkualitas, bagaimanapun kurikulum, pendanaan, serta metode yang dijalankan
nantinya dengan pengawasan yang tentunya tetap harus dilakukan oleh pemerintah.
Selain itu, kesejahteraan tenaga pendidik juga perlu ditingkatkan lagi. Melihat
peran tenaga pendidik sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia yang
unggul. Jadikan profesi tenaga pendidik/guru ini sebagai profesi yang
bergengsi, sama halnya dengan profesi-profesi seperti dokter, insinyur, dan
sebagainya. Sebab bagaimanapun berkembang dan majunya zaman tidak akan pernah ada
yang bisa mengganti peran tenaga pendidik secara langsung, yang menyentuh aspek
pembinaan moral dan akhlak, suatu hal yang tidak bisa dikerjakan oleh teknologi
paling canggih sekalipun.
PENUTUP
Kesimpulan
Pendidikan
Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tidak
melupakan nilai-nilai agama sebagai penunjang dalam pelaksanaan pendidikan.
Konsep pendidikan Islam memberi harapan sebab bukan hanya menitikberatkan
pendidikan hanya pada pengajaran saja tapi lebih dari itu bagaimana pendidikan
dapat membentuk akhlak dan adab yang baik dalam kehidupan.
Untuk
mewujudkan hal tersebut maka diperlukan usaha dan strategi dalam sistem
pendidikan dengan mengubah cara kita memikirkan dakwah atau dalam hal ini
pendidikan. Dimana faktor sumber daya harus menjadi perhatian agar terjadi keseimbangan
antara beban dan daya pikul pada proses pendidikan. Kemudian hendaknya kembali
membangun peradaban yang dulu pernah berjaya dimasa lampau dengan menjadikan masjid,
khususnya masjid kampus dan program pembinaan peserta didik berbasis
asrama/pondok yang masih relevan untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai
motor penggeraknya. Konsep strategi peningkatan kualitas dan kesejahteraan
tenaga pendidik juga perlu diperhatikan sejak proses awal mulai dari proses
seleksi calon tenaga pendidik, proses menempuh pendidikan dengan tawaran konsep
sistem sekolah kedinasan, hingga setelah menjadi tenaga pendidik nantinya.
Profesi tersebut juga harus menjadi profesi yang bergengsi sama halnya dokter, insinyur, dan sebagainya. Dari
uraian permasalahan dan konsep strategi pendidikan tersebut membutuhkan kesadaran
kolektif oleh semua pihak, baik itu tenaga pendidik, peserta didik, dan juga
pengambil kebijakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan dapat membentuk
Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
Saran
Strategi
sistem pendidikan masih perlu dipirkan lagi oleh kita semua, baik itu dari
tenaga pendidik, dari peserta didik itu sendiri, dan pengambil kebijakan dalam
bidang pendidikan. Kesejahteraan tenaga pendidik masih perlu mendapat perhatian
lebih, mengingat peran tenaga pendidik sangat penting dalam membentuk sumber
daya manusia (SDM) yang unggul. Perpaduan antara strategi pengembangan
pendidikan dan juga konsep pendidikan dalam Islam adalah salah satu strategi
yang menjanjikan karena telah ter uji dimasa lampau. Sehingga perlu dikaji dan
dikembangkan lagi sesuai konteks zaman.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Munyawi,
Syaikh Ramzi. 2012. Muhammad Al-Fatih Penakluk Kontstantinopel. Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar.
HAMKA.
2015. Lembaga Hidup. Jakarta: Republika Penerbit.
Husaini,
Dr.Adian, et. Al. 2013. Filsafat Ilmu; Perspektif Barat dan Islam. Jakarta:
Gema Insani.
Iqbal,
Abu Muhammad. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Matta, M.Anis. 2010.
Dari Gerakan ke Negara. Bandung: Fitrah Rabbani.
Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2010 Tentang Pendidikan Kedinasan.
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Konsep
dan Sistem Pendidikan Islam insists.id/konsep-dan-sistem-pendidikan-islam-1/
Masjid
Salman ITB https://salmanitb.com/linkup-kegiatan/
Peran Peradaban Islam dalam Perkembangan Ilmu
Pengetahuan https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-peradaban-islam-ilmu-pengetahuan
Komentar