Pendidikan Dalam Perspektif Islam : Strategi Sistem Pendidikan di Indonesia Guna Membentuk SDM yang Unggul


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sewaktu bom yang meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang terjadi, konon katanya orang-orang Jepang bukan hanya mempertanyakan tentang kerugian material dari hancurnya barang-barang dan berapa banyak yang tersisa, yang ditanyakan justru berapa jumlah guru yang masih tersisa. Hal ini menggambarkan bagaimana kepedulian negara tersebut terhadap yang namanya pendidikan. Sama dengan Jepang, negeri jiran Malaysia juga sangat memperhatikan kualitas pendidikannya. Dahulu tenaga pendidik Indonesia bahkan dikirim ke Malaysia untuk mengajar, ternyata orang-orang Malaysia sendiri juga sedang bertebaran di belahan bumi lainnya untuk menempuh pendidikan dan kemudian kembali untuk membangun negaranya. Alhasil, kita bisa melihat bagaimana perkembangan yang terjadi di Malaysia. Dulunya orang-orang Malaysia banyak datang berguru ke Indonesia. Sekarang justru sebaliknya, orang Indonesia yang justru banyak merantau ke Malaysia untuk menempuh pendidikan. Serta masih banyak lagi contoh lain negara maju sejalan dengan kualitas pendidikannya.
Sehingga tidak mengherankan kemudian jika data UNESCO pada tahun 2013 menyebutkan Indonesia menduduki peringkat 121 dari 185 negara ditinjau dari mutu pendidikannya. Hal ini tentu menjadi tanggungjawab kita bersama untuk meningkatkannya, khususnya bagi umat Islam yang sangat menekankan tentang pentingnya mengoptimalkan fungsi akal, dalam konteks ini pendidikan. Islam sebagai agama yang universal memberikan pedoman hidup (way of life) bagi manusia menuju kebahagiaan hidup lahir dan batin, serta dunia dan akhirat. Kebahagiaan hidup manusia itulah yang menjadi sasaran hidup manusia yang pencapaiannya juga sangat bergantung pada pendidikan. Selain itu, pendidikan merupakan kunci untuk membuka pintu ke arah modernisasi. Modernisasi hanya bisa dicapai melalui pemberdayaan pendidikan. Dengan demikian, modernisasi juga menjadi tujuan ajaran Islam. Akan tetapi modernisasi yang menjadi tujuan Islam itu harus sesuai dengan tolok ukur ajarannya. Untuk itu, dalam rangka menuju tujuan tersebut, agama ini telah memiliki konsep terkait pendidikan. 


Rumusan Masalah
  1.    Bagaimana strategi konsep pendidikan guna membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul ?



PEMBAHASAN

Tujuan Pendidikan Nasional
Definisi pendidikan menurut KBBI yaitu "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik". Sedangkan pengertian pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 1 bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator,dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional)


Pendidikan Islam 
Prinsip penyelenggaraan pendidikan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 pada Pasal 4 Bab III yaitu “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”. Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa salah satu yang perlu dijunjung tinggi adalah nilai keagamaan, lalu diperjelas lagi pada Pasal 12 ayat I (a), mengatur hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan agama di sekolah sesuai agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Artinya setiap peserta didik berhak untuk mendapatkan pendidikan agama apapun latar belakang agama yang dianutnya termasuk agama Islam.
Syed M. Naquib Al-Attas, seorang pemikir pendidikan dalam karya monumentalnya The Concept of Education In Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Al-Attas mencetuskan dan menawarkan bahwa konsep atau istilah yang tepat, benar, dan relevan untuk pendidikan adalah konsep ta’dib, bukan ta’lim, tarbiyah, ataupun konsep yang lainnya. Karena menurut Al-Attas konsep tarbiyah hanya menekankan aspek fiskal dan emosional manusia (karena proses tarbiyah ini tidak hanya untuk manusia, tetapi berlaku untuk hewan dan tumbuh-tumbuhan, oleh karena itu konsep tarbiyah ini kurang tepat untuk istilah pendidikan bagi manusia). Sedangkan konsep ta’lim secara umum hanya menekankan pada transfer of knowledge (aspek kognitif) dan pengajaran. Agar proses pendidikan berjalan secara komprehensif- yakni mencakup ranah kognitif, psikomotorik, dan ranah afektif, maka Al-Attas menawarkan konsep ta’dib bagi pendidikan, karena konsep ini sudah mencakup konsep ta’lim dan tarbiyah sekaligus. Menurut Al-Attas, pendidikan adalah penyemaian dan internalisasi (penanaman) adab dalam diri seseorang, oleh karena itu proses pendidikan disebut dengan ta’dib. Pendapat ini dijustifikasi dari hadits yang berbunyi: “Tuhanku telah mendidikku (addabani), maka ia menjadikan pendidikanku dengan sebaik-baiknya pendidikan”. Addabani dalam konteks hadits ini mengandung pendidikan akhlak. De facto, bahwasanya pendidikan Nabi Muhammad saw. dijadikan Allah swt. sebagai pendidikan yang terbaik didukung oleh Al Qur’an yang mengafirmasikan kedudukan Rasulullah yang akram (mulia), role model (uswatun hasanah) yang baik. Hal ini kemudian dikonfirmasikan oleh hadits Nabi yang menyatakan bahwa misi kerasulannya adalah untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak manusia. Seseorang yang paling sempurna imannya- menurut Rasulullah- adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sedangkan menurut Al-Attas orang yang terdidik atau terpelajar adalah orang baik (good man). Orang baik adalah “Orang yang menyadari sepenuhnya tanggungjawab dirinya kepada Tuhan Yang Haq; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.
Karena alasan-alasan inilah orang-orang bijak, para cerdik cendekia dan para sarjana di antara orang-orang Islam terdahulu mampu mengkombinasikan ilmu, amal, dan adab, dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan. Pendidikan dalam kenyataannya adalah ta’dib, karena adab sebagaimana didefinisikan, telah mencakup ilmu dan amal sekaligus. Dengan begitu, tujuan pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang beradab.


Adab dan Tujuan Pendidikan Dalam Islam (Syed Naquib Al-Attas)
Syed Naquib Al-Attas menjelaskan bahwa jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab dalam kehidupan. Konsep adab memang sangat terkait dengan pemahaman tentang wahyu. Orang beradab adalah yang dapat memahami dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah. “Orang baik” atau good man, bisa dikatakan sebagai manusia yang memiliki berbagai keutamaan dalam dirinya. Dengan berpijak kepada konsep adab dalam Islam, maka “manusia yang baik” dan “manusia yang beradab”, adalah manusia yang mengenal Tuhannya, mengenal dan mencintai Nabinya, menjadikan Nabi saw. sebagai uswah hasanah, menghormati para ulama sebagai pewaris Nabi, memahami dan meletakkan ilmu pada tempat yang terhormat-memahami mana ilmu yang fardhu ain, dan mana yang fardu kifayah; juga mana ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang merusak- dan memahami serta mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardh dengan baik. 
Nabi Muhammad saw. berhasil membangun peradaban Islam di Madinah, yakni suatu masyarakat yang menegakkan adab dalam kehidupan mereka. Masyarakat beradab- menurut Islam- adalah masyarakat yang memuliakan orang yang berilmu, orang yang saleh, dan orang yang bertakwa; bukan orang yang berkuasa, banyak harta, keturunan raja, berparas rupawan, dan banyak anak buah. Karena itu, jika ingin merujuk kepada konsep Islam tentang adab, pemimpin yang baik adalah yang mampu mengembangkan masyarakat yang beradab. Manusia memang sama-sama manusia, tetapi Allah swt. sudah membeda-bedakan harkat dan martabat manusia sesuai dengan keilmuan, keimanan, dan ketakwaannya. Inilah adab dalam konsep Islam. Karena pentingnya penegakan “adab” di tengah masyarakat Muslim, maka pakar pendidikan dan pemikiran Islam, Syed Naquib Al-Attas, sudah mengajukan istilah “ta’dib” untuk suatu proses pendidikan, yang tujuannya adalah membentuk manusia yang beradab, atau manusia yang baik (a good man). Dengan itu, tujuan pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang beradab.
Sebagaimana Buya Hamka pernah berkata bahwa pengajaran dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Bangsa yang hanya mementingkan pengajaran saja, tiada mementingkan pendidikan untuk melatih budi pekerti, meskipun kelak tercapai olehnya kemajuan, namun kepintaran dan kepandaian itu akan menjadi racun, bukan menjadi obat. Pendidikan adalah untuk membentuk watak pribadi. Manusia yang lahir ke dunia ini supaya menjadi orang yang berguna dalam masyarakatnya. Supaya dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk.  



Mengubah Cara Kita Memikirkan Da’wah (Pendidikan)
Dalam buku Dari Gerakan ke Negara, pada bab Mengubah Cara Kita Memikirkan Dakwah, Anis Matta menjelaskan bahwa Generasi pertama para pemikir dakwah, seperti Al-Banna, Al-Maududi, Sayyid Qutb dan lainnya, memfokuskan perhatian pada pembangunan ideologi. Generasi kedua seperti Muhammad Al-Ghazali, Yusuf Al-Qardhawi, Fathi Yakan, dan lainnya memfokuskan perhatiannya pada pembangunan kerangka pemikiran pergerakan. Lalu ketika gerakan dakwah memasuki era keterbukaan, bermetamorfosis menjadi institusi terbuka, bermain di domain publik, memasuki pusat-pusat kekuasaan, persoalan terbesar kita adalah sumber daya. Melihat realitas tersebut, persoalan sumber daya ini muncul karena pusat perhatian pikiran kita belum bergeser dari tema besar generasi dan generasi kedua para pemikir dakwah. Kita masih bicara ideology dan belum bicara sumber daya. Kita masih bicara system pemerintahan Islam dan belum bicara kompetensi kepemimpinan ummat. Kita masih bicara slogan “Islam adalah solusi” dan belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa. Kita masih bicara kegagalan musuh, dan belum berbicara kesuksesan-kesuksesan kita. Kita masih bicara ghazwul fikri, dan belum berbicara strategi kebudayaan. Kita masih bicara konspirasi asing, dan belum berbicara system pertahanan dakwah. Kita masih bicara fiqhul ikhtilaf, dan belum bicara manajemen organisasi. Kita masih bicara sabar dalam mensiasati keterbatasan dana, dan belum berbicara cara mencipatakan kelimpahan dana. Kita masih bicara apa yang kita inginkan, dan belum bicara sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya.
Apa yang disampaikan dalam dalam konteks dakwah diatas mungkin sama halnya dengan realitas yang dialami pendidikan kita (pendidikan Islam) hari ini. Selama pusat perhatian pikiran kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumber daya-sumber daya, selama itu kita akan mengalami kemunduran dan keterpurukan. Ini hanya konsekuensi antara ketidakseimbangan antara beban dan daya pikul.


 Pemikiran Pendidikan Islam (Ibn Taimiyah)
Ada dua hal penting yang menjadi orientasi utama pemikiran pendidikan dalam menghadapi krisis pendidikan. Pertama, usaha untuk menemukan kembali konsep filosofis pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai luhur Islam. Kedua, usaha untuk menyesuaikan konsep pendidikan Islam tersebut dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Secara filosofisnya semua bentuk pendidikan Islam bermuara pada suatu substansi tunggal. Beberapa bidang ilmu dan perspektif intelektual yang berkembang dalam Islam pada prinsipnya kembali pada satu substansi, yaitu pengetahuan tentang Yang Maha Esa. Kondisi gambaran umum umat Islam pada masa hidup Ibn Taimiyah. Beragamnya pandangan hidup yang diposisikan sebagai standar nilai-nilai kebenaran dalam masyarakat akhirnya memicu munculnya beragam system pendidikan yang berkembang dalam dunia Islam. Posisi penting pendidikan mendorong Ibn Taimiyah untuk meletakkan pendidikan Islam pada prinsipnya yang paling mendasar. Belajar dikembalikan pada pengertiannya sebagai usaha menuntut ilmu yang merupakan perintah ibadah, mengajarkan ilmu kepada orang ain merupakan benduk shadaqat, melakukan kajian keilmuan merupakan bagian dari jihad dan pengangungan Asma Allah SWT. Anak didik bukan hanya terbatas dalam kelas, sekolah atau halaqah di masjid saja, tetapi adalah berorientasi kepada seluruh masyarakat dengan tetap berprinsip amar ma’ruf nahi mungkar.
Desain metode pendidikan yang digagas Ibn Taimiyah ini mengarah pada pentingnya keseimbangan antara unsur penalaran dan aplikasi dalam proses pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendapatnya tentang dwi tunggal potensi yang dimiliki manusia, yaitu potensi ilmiyyat dan iradat. Dengan potensi pertama, manusia bisa berpikir dan akhirnya mendapat ilmu dan pengetahuan. Sementara dengan iradat dimana dengan kecenderungan amal yang dimilikinya, manusia tergerak untuk menerapkan ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya dalam bentuk perbuatan yang nyata. Syarat-syarat yang harus dijaga dalam menggunakan metode-metode pendidikan agar dalam proses belajar mengajar itu dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan kehendak yang hendak dicapai, maka yang harus diperhatikan adalah hal-hal berikut: Pertama, perhatian terhadap persiapan dan kemampuan pelajar. Ibn Taimiya berkomentar: Al-Wus’u atau kemampuan adalah sesuatu yang dikuasai oleh jiwa, dengan demikian jiwa itu tidak merasa kesulitan dan tidak lemah untuk menggerakkannya. Sebagaimana firman Allah: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Kedua, tahapan dalam belajar. Dalam proses mencari ilmu seorang murid harus didasari dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah semata. Murid juga harus sabar dan tekun sebab dalam prosesnya akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kemudahan. Ketiga, kesempurnaan ilmu dan pengetahuan adalah adanya perpaduan antara teori dan praktek. Tujuannya agar adalah untuk mengembangkan daya pikir dan membantu menuju proses kematangan dan kesempurnaan pribadi anak didik.


Pendidikan Keluarga: Pendidikan Awal dan Paling Utama (Buya Hamka dan Ibnu Qayyim)
Madrasah atau pendidikan pertama yang kita jumpai dalam kehidupan adalah pendidikan keluarga. Sebab disini adalah awal pertama kali kita menjalani kehidupan. Pendidikan harus didasarkan kepada kepercayaan, bahwa di atas dari kuasa manusia ada lagi kekuasaan Maha Besar. Itulah Tuhan. Sebab itu pendidikan modern tidak bisa meninggalkan agama. Kecerdasan otak tidaklah menjamin keselamatan kalau nilai rohani keagamaan tidak dijadikan dasarnya. Bagi anak-anak yang masih kecil didikan agamalah yang perlu, belum ilmu agama. Karena pelajaran agama mudah masuk asal dasar iman sudah ada lebih dahulu. Dalam agama Islam sudah ada aturan mendidik anak-anak dalam agama. Usia 7 tahun anak iti disuruh shalat oleh ibu bapaknya. Dan kalau usianya telah 10 tahun, belum juga dia shalat, masih malas-malas dia mengerjakan, sudah boleh dipukul. Tetapi apa boleh dikata, kalau iman orang tua sendiri lemah. Anaknya hanya diserahkannya kepada suatu sekolah. Di sekolah itu yang ada hanya mengajarkan pengajaran, bukan pendidikan. Kalaupun ada pendidikan, hanyalah pendidikan yang salah, pendidikan yang menghilangkan pribadi. Banyak ilmunya tetapi budinya kurang. Kesudahannya banyaklah kelihatan anak-anak muda yang tidak tentu tujuan hidupnya. Tidak dapat berkhidmat kepada tanah air tumpah darahnya. Bagaimana akan berkhidmat dia sendiri tidak mengenal asal usulnya.
Berkata Hukama, “Hendaklah adab sopan anak-anak itu dibentuk sejak dari kecilnya. Karena ketika kecilnya masih mudah membentuk dan mengasuhnya. Belum dirusakkan oleh adat kebiasaan yang sukar meninggalkan. Tiap-tiap manusia, apabila telah terbiasa mengerjakan dan menabiatkan suatu pekerti sejak kecilnya – yang baik atau yang buruk – sukarlah membelokkannya kepada yang lain, apabila dia telah besar. Padahal masa jadi anak-anak itu hanya sebentar”.
Dari hal tersebut, hendaknya pendidikan tentang keluarga ini menjadi perhatian bagi pemerintah. Wacana kuliah pra-nikah bisa menjadi suatu gagasan yang patut dipertimbangkan untuk diterapkan. Sebab komunitas keluarga inilah yang menjadi tempat belajar pertama bagi anak-anak, ketika dia mendapat didikan dan teladan yang baik sejak dari komunitas terkecilnya maka hal tersebut akan terus ia bawa hingga di komunitas yang lebih besar hingga di kehidupan masyarakat yang lebih luas. Berapa banyak anak-anak yang hidupnya menjadi berantakan dikarenakan keluarga yang tidak harmonis, tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Hal-hal yang tentunya menjadi hak dasar bagi setiap anak yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dalam menjalani hidup. Maka terjadilah banyak kenakalan anak/remaja, karena mereka mencari pelampiasan diakibatkan kekecewaan yang ia hadapi di dalam kehidupan keluarga. Ada banyak kasus seperti itu yang terjadi, dan setelah diselidiki akar permasalahannya, ternyata disebabkan oleh keluarganya sendiri, tempat yang seharusnya pertama kali ia mendapatkan hak-hak dasar.
Selain itu, ada juga tips melaksanakan 9 jenis tarbiyah yang digali Ibnu Qayyim rangkuman Dr. Hasan al-Hijazy:

(1)   Tarbiyah Imaniyah (Mendidik Iman)
Ada tiga sarana (wasilah) untuk mendidik iman. Pertama, selalu mentadabburi (mengamati, mempelajari, menghayati) tanda-tanda kekuasaan Allah Dzat Pencipta serta keluasan rahmat dan hikmah perbuatan-Nya. Tadabbur ini bisa dilakukan dengan penglihatan biasa (bashirah), bisa pula dengan penalaran akal sehat, dengan mentadabburi kekuasaan Allah, hasil-hasil ciptaan-Nya, gejala-gejala alam, kesempurnaan penciptaan manusia, juga ayat-ayat al-Qur’an.  Kedua, selalu mengingat kematian yang penuh kepastian. Ketiga, mendalami fungsi semua jenis ibadah-ibadah sebagai salah satu cara mendidik iman. Caranya dengan banyak mengerjakan amal saleh yang sendi utamanya adalah keikhlasan; juga memperbanyak doa dan harapan kepada Allah semata; menghindari riya dalam berkata dan bertindak; mencintai firman Allah; berkeyakinan bahwa kelak akan berjumpa langsung dengan Allah; terkahir, melanggengkan rasa syukur dalam keadaan apapun.

(2)   Tarbiyah Ruhiyah (Mendidik Pikiran)
Ibnu Qayyim 7 cara melakukan ruhiyah, yaitu memperdalam iman kepada hal-hal (ghaib) yang dikabarkan Allah seperti azab kubur, alam barzakh, akhirat, hari perhitungan, memperbanyak dzikir dan shalat, melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap hari sebelum tidur’ mentadabburi makhluk Allah yang banyak menyimpan bukti-bukti kekuasaan, ketauhidan, dan kesempurnaan sifat Allah serta mengagungkan, menghormati, dan mengindahkan seluruh perintah dan larangan Allah.

(3)   Tarbiyah Fikriyah (Mendidik Pikiran).
Kegiatan tafakkur (merenung/berkontemplasi) menurut Ibnu Qayyim adalah menyingkap beberapa perkara dan membedakan tingkatannya dalam timbangan kebaikan dan keburukan. Dengan tafakkur, seseorang bisa membedakan antara yang hina dan mulia, dan antara yang lebih buruk dari yang buruk. Kata Imam Syafi’I “Minta tolonglah atas pembicaraanmu dengan diam dan analisamu dengan tafakkur”. Ibnu Qayyim mengomentari kalimat itu dengan berkata “yang demikian itu dikarenakan tafakkur adalah amalan hati, dan ibadah adalah amalan jawarih (fisik), sedang kedudukan hati itu lebih mulia daripada jawarih. Disamping itu, tafakkur bisa membawa seseorang kepada keimanan yang tak bisa diraih oleh amal semata. “Sebaik-baik tafakkur adalah saat membaca Al-Qur’an, yang akan mengantar manusia kepada ma’rifatullah (mengenal Allah).”

(4)   Tarbiyah Athifiyah (Mendidik Perasaan)
Naluri (insting), kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan cinta merupakan perasaan-perasaan utama yang selalu mendera manusia. Sedangkan cinta adalah perasaan yang bisa menjadi motivasi paling kuat untuk menggerakkan manusia melakukan apapun. Maka Ibnu Qayyim membeli 11 resep menduduk perasaan cinta, yaitu: menanamkan perasaan yang kuat bahwa seorang hamba sangat membutuhkan Allah, bukan yang lain; meyakinkan diri sendiri bahwa satu hati yang menjadi milik manusia harus dipenuhi hanya oleh satu cinta; mengokohkan perasaan bahwa pemilik segala sesuatu di dunia ini Allah semata; beribadah kepada Allah dengan nama-namanya yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin demi menumbuhkan rasa fakir (butuh) kepada Allah; bersikap tegas bahwa tak ada yang lebih tinggi dan mulia kedudukannya sesudah Allah; Menanamkan ma’rifat tentang betapa banyak nikmat Allah dan betapa banyak kelemahan kita; menanamkan ma’rifat bahwa Allah lah yang telah menciptakan semua perbuatan hamba-Nya dan telah menananamkan iman di dalam hatinya; menanamkan perasaan butuh pada hidayah Allah dalam setiap detik kehidupannya; serius memanjatkan doa-doa yang meminta pertolongan Allah dalam menghadapi apapun; menanamkan kesadaran penuh akan nikmat dan karunia-Nya yang begitu banyak; serta, menanamkan ilmu bahwa cinta kepada Allah merupakan tuntutan iman.

(5)   Tarbiyah Khuluqiyah (Mendidik Akhlak)
Misi utama Rasulullah di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Contoh-contoh utama akhlak mulia yang diharapkan dari seorang muslim adalah sabar, syaja’ah (keberanian), al-itsar (mendahulukan kepentingan orang lain, syukur, jujur, dan amanah. Cara pendidikan akhlak yang mulia itu adalah: Pertama, mengosongkan hati dari itikad dan kecintaan kepada segala hal yang batil. Kedua, mengaktifkan dan menyertakan seseorang dalam perbuatan baik (al-birr). Ketiga, melatih dan membiasakan seseorang dalam perbuatan baik itu. Keempat, memberi gambaran yang buruk tentang akhlak tercela. Kelima, menunjukkan bukti-bukti nyata sebagai buah dari akhlak yang mulia.

(6)   Tarbiyah Ijtimiyah (Mendidik Bermasyarakat)
Pendidikan kemasyarakatan yang baik adalah, yang selalu memperhatikan perasaan orang lain. Seorang muslim dalam masyarakat, tidak dibenarkan menyakiti saudaranya walaupun hanya dengan menebarkan bau yang tidak enak. Bahkan Ibnu Qayyim berpendapat, tidak cukup hanya tidak menyakiti perasaan, seorang muslim harus mampu membahagiakan dan menyenangkan hati saudara-saudara di sekitarnya.

(7)   Tarbiyah Iradiyah (Mendidik Cita-Cita)
Tarbiyah iradiyah berfungsi mendidik setiap muslim untuk memiliki kecintaan terhadap sesuatu yang dicita-citakan, tegar menanggung derita di jalannya, sabar dalam menempuhnya mengingat hasil yang kelak akan diraihnya serta melatih jiwa dengan kesungguhan dalam beramal. Tanda-tanda iradah yang sehat adalah, kegelisahan hati dalam mencari keridhaan Allah dan persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Seseorang yang iradah-nya sehat, juga akan bersedih karena menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah. Sedangkan iradah yang rusak akan lahir dalam bentuk penyakit ilmu, pengetahuan, dan keahlian yang berlawanan dengan syariah Allah.

(8)   Tarbiyah Badaniyah (Pendidikan Jasmani)
Seorang muslim harus secara terprogram memperhatikan unsur badan, menjaganya dan memenuhi hak-haknya secara sempurna. Perhatian yang demikian akan mengantarkan seseorang pada ketaatan penuh dan kesempurnaan dalam menjalankan semua yang diwajibkan Allah kepadanya. Tarbiyah badaniyah ini meliputi: pembinaan badan di waktu sehat, pengobatan di waktu sakit, pemenuhan kebutuhan gizi, serta olah raga (tarbiyah riyadliyah)

(9)   Tarbiyah Jinsiyah (Pendidikan Seks)
Tarbiyah jinsiyah bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: memperbanyak pembicaraan tentang bahaya-bahaya zina dan berbagai kerusakan yang ditimbulkannya termasuk ancaman dosa zina; menyebarluaskan peringatan dan penjelasan tentang bahaya serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan perilaku homoseksual; menjadikan kebiasaan untuk membatasi pandangan mata sebagai kebudayaan di tengah masyarakat; tidak berkata-kata maupun melangkahkan kaki kecuali kepada hal-hal yang pasti mendapat pahal dari Allah; menyatakan perang terhadap semua bentuk nafsu dan keinginan yang buruk; meniadakan waktu yang kosong; memperbanyak ibadah sunnah; melarang anak-anak bergaul dengan teman yang buruk akhlaknya; melarang anak-anak dengan keras untuk mendekati khamr (minuman keras); serta melindungi anak dari penyimpangan fitrah kelaminnya.


Membangun Kembali Peradaban
Konsep tentang pendidikan di dunia Islam sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sejak zaman kenabian pun. Bagaimana Rasul mendidik para sahabatnya, yang kemudian diteruskan dan dilanjutkan hingga melalui proses yang panjang sampai kepada kita Umat saat ini. Dunia Islam pernah mengalami kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan budaya yang luar biasa pesat, masa ini dikenal dengan masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam). Pada masa pemerintahannya, Khalifah Harun Ar-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yaitu perpustakaan, lembaga penerjemah, dan pusat penelitian. Baitul Hikmah menjadi salah satu kunci masuknya literatur asing (barat) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa arab dan sebagai jembatan dalam proses transfer ilmu pengetahuan pada zaman keemasan Islam. Baitul Hikmah mencapai puncaknya dimasa kepemimpinan Ma’mun Ar-Rasyid, putranya. Sepanjang abad ke-9 hingga ke-13, banyak ilmuwan termasuk yang berlatarbelakang Persia maupun Kristen ikut ambil bagian pada penelitian dan pendidikan pada lembaga ini. Dibawah kepemimpinannya, observatorium didirikan, Baitul Hikmah telah menjadi  pusat studi ilmu pengetahuan dan studi humaniora yang terbaik pada masa abad pertengahan Islam, meliputi bidang matematika, kedokteran, astronomi, kimia, zoology, dan geografi. Tidak hanya dari bangsa barat, literatur-literatur dari  Yunani, Persia, dan India juga dikumpulkan, para ilmuwan telah mengoleksi pengetahuan-pengetahuan dunia. Pada pertengahan abad 9 masehi, Baitul Hikmah menjadi repository terbesar dari buku-buku dunia. Beberapa ilmuwan yang dikenal dan memiliki hubungan dengan Baitul Hikmah yaitu Al Khawarizmi (780-850), ahli matematika; Al-Jahiz (781-861), penulis dan ahli biologi; Al-Jazari (1136-1206), Ahli fisika dan teknisi.  Periode yang cukup panjang ini (sekitar 500 tahun), bisa dikatakan tidak ada peradaban yang bisa menandingi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, mulai dari Eropa, Cina, India, semuanya salut dengan kegigihan kekhalifahan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan melebihi peradaban manapun pada masa itu. Pada tahun 1258 M, terjadi penyerangan Baghdad oleh invasi pasukan Hulagu Khan, Baitul Hikmah beserta literatur-literatur didalamnya ikut dihancurkan. Hanya sedikit yang tersisa dan berhasil diselamatkan oleh salah seorang ilmuwan lain bernama Al-Tusi, yang membawa kabur naskah-naskah yang berhasil diselamatkan ke Observatorium Maragheh (Azerbaijan), yang kemudian berjasa memberikan jalan untuk munculnya era renaissance di Eropa. Berbagai penemuan dan penelitian dengan jumlah yang besar di dunia Islam memberi sumbangsih terhadap Eropa abad pertengahan yang mempengaruhi berbagai bidang di Eropa seperti seni, arsitektur, kedokteran, pertanian, bahasa, teknologi, dll. Sejarah singkat yang dijelaskan diatas hanyalah sedikit dari cerita panjang tentang kejayaan Islam dimasa silam, dan masih banyak lagi yang mesti kita gali dan ketahui.
Kejayaan Islam terakhir kali kita saksikan dimasa kepemimpinan Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel dan memperluas wilayah kekuasaan Islam. Muhammad Al-Fatih bukan hanya sekedar seorang pemimpin militer. Ia sangat memperhatikan sisi keilmuan dengan sangat maksimal. Beliau mendirikan banyak sekolah dan institut, berusaha untuk memanggil para ulama dan sastrawan dari berbagai penjuru dunia, dan bekerja untuk mengembangkan metode pengajaran. Beliau juga mendirikan perpustakaan besar di masjid yang dibangun di Konstantinopel, dan melakukan penerjemahan buku-buku referensi asing dalam berbagai cabang ilmu, khususnya kedokteran, farmasi, dan falak. Pada sekolah-sekolah ini juga disiapkan asrama-asrama untuk para siswa. Disana mereka tidur dan makan. Untuk makanan mereka mendapat bantuan keuangan bulanan. Lalu di samping masjid itu, ia membangun sebuah perpustakaan khusus. Kurikulum sekolah itu juga mencakup sistem spesialisasi, dimana ilmu-ilmu wahyu dan nalar berada dalam jurusan tersendiri dan ilmu-ilmu aplikatif juga berada dalam jurusan tersendiri.


Masjid Sebagai Penggerak Peradaban
Contoh Masjid Kampus yang sangat berkembang dengan program pembinaannya adalah masjid kampus pertama yang dibangun di Indonesia, yaitu Masjid Salman di Institut Teknologi Bandung (ITB), meski ITB terkenal dengan ilmu teknologinya namun tidak melupakan aspek pembinaan melalui berbagai macam program yang tidak hanya untuk mahasiswa saja, tapi juga bagi masyarakat secara umum yang melibatkan mahasiswa dan sivitas akademik sebagai penggeraknya. Hal ini mengingatkan lagi kita akan peran masjid pada masa Rasulullah dimana masjid menjadi pusat peradaban, bukan sekadar disempitkan sebagai tempat ibadah ritual (shalat) semata. Masjid Salman, selain membina mahasiswa di asrama yang berada di kawasan masjid, lingkup kegiatan utamanya yaitu pelayanan ibadah, dakwah, dan pembinaan generasi muda. Kemudian kegiatan pendukungnya meliputi kursus dan pelatihan profesional, penerbitan dan multimedia, dan layanan lain seperti Salman Reading Corner, lapangan futsal, ruang serbaguna dan kelas; pengelolaan zakat, infak, sedekah & wakaf; BPR Syariah Al-Salaam, minimarket, aneka kios, kantin, hingga air minum gratis. Contoh Masjid Salman ini perlu menjadi contoh bagi masjid-masjid kampus lain di Indonesia. Bukan hanya untuk kawasan pendidikan saja tapi juga untuk masjid secara umum seperti Masjid Istiqlal, Masjid Jogokariyan di Yogyakarta, dan masjid-masjid dan Islamic center lain yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.


Strategi Pendidikan Islam Demi Terciptanya SDM Unggul
Kisah kejayaan pendidikan Islam dimasa lampau mesti kita jadikan sebagai contoh untuk melanjutkan kejayaan dan peradaban itu sampai saat ini. Tradisi keilmuan hendaknya menjadi perhatian bagi kaum Muslim. Adapun metode dan strategi yang digunakan ada bermacam-macam tergantung dengan kondisi saat itu. Namun, apa yang telah diterapkan dimasa lampau tadi masih relevan untuk diterapkan sampai sekarang, seperti sekolah-sekolah yang berbasis asrama/pondok (boarding school). Konsep ini yang diterapkan di institusi-institusi pendidikan seperti pesantren, mulai dari jenjang SMP hingga pendidikan tinggi (kuliah). Sistem ini akan menunjang proses belajar-mengajar dengan baik, lingkungan pendidikan dimana para peserta didik (siswa) tinggal bersama dalam satu kawasan sekolah/madrasah/kampus, bukan hanya untuk para siswa namun juga bagi tenaga pendidik, sehingga interaksi pengetahuan bisa lebih terbangun. Peserta didik kapanpun bisa berdiskusi dengan gurunya. Aktivitas kegiatan yang positif juga terbangun di sekolah yang berbasis asrama ini karena kegiatan telah terjadwal dan tersusun rapi mulai dari pagi sampai sore, bahkan hingga malam hari. Berbeda dengan sekolah/institusi pendidikan umum yang prosesnya biasanya hanya berlangsung hingga sore hari, itupun porsi ilmu dunia tidak diimbangi dengan ilmu agama yang juga sangat penting untuk akhlak para peserta didik. Konsep seperti ini perlu untuk dipertimbangkan lagi oleh pemangku pendidikan.
Sama halnya pada tingkat pendidikan tinggi. Terdapat beberapa tempat pembinaan mahasiswa seperti asrama mahasiswa (ramsis) yang berada di kawasan kampus dan biasanya disediakan oleh pihak universitas, tapi sayangnya asrama tersebut masih sebatas tempat untuk tinggal saja, program-program kegiatan belum direncanakan, meski di beberapa kampus ada juga yang membuat berbagai program pembinaan tergantung kebijakan masing-masing pengelola ramsis. Selain itu di kampus juga terdapat kesempatan untuk tinggal dan mengelola kegiatan di Masjid Kampus masing-masing. Seperti yang dibahas pada pembahasan sebelumnya terkait peran masjid sebagai penggerak peradaban. Diluar kampus juga terdapat program pembinaan mahasiswa yang merupakan program dari beberapa yayasan, organisasi, dan sebagainya sebut saja seperti Rumah Kepemimpinan (RK), Bakti Nusa (Dompet Dhuafa), Inisiatif Zakat Indonesia dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan sebagainya. Ada juga pesantren mahasiswa, pembinaan khusus bagi mereka yang ingin fokus menghafalkan Al-Qur’an.  Program-program beasiswa ini memberi banyak manfaat dengan berbagai program yang telah direncanakan dan disusun sedemikian rupa untuk tidak hanya memberi manfaat dalam bentuk materi saja, tapi lebih penting dari itu bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dari segi kepribadian dan memberi dampak yang besar bagi lingkungan dan masyarakat. Beasiswa seperti ini tentu melalui tahapan yang tidak mudah, baik dari pemberi beasiswa selaku pengelola maupun bagi penerima manfaat beasiswa. Mereka mengikuti proses seleksi yang ketat dan menjalani program pembinaan yang tidak mudah demi menempa diri, didik untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berkarakter.


Konsep Strategi Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik
            Di Indonesia terdapat yang namanya pendidikan kedinasan berikut sekolah kedinasannya. Pendidikan kedinasan adalah pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh Kementerian, kementerian lain, atau lembaga pemerintah nonkementerian yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai negeri dan calon pegawai negeri. (Bab 1 Pasal 1. PP Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pendidikan Kedinasan). Peserta didik pendidikan kedinasan memiliki hak: memperoleh biaya pendidikan kedinasan sesuai dengan keahlian tertentu yang diikutinya; memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang proses pembelajaran; mendapat bimbingan dari pendidik dan tenaga kependidikan dalam rangka penyelesaian studinya; dan memperoleh layanan informasi mengenai program pendidikan yang diikutinya serta hasil belajarnya. (Pasal 11 Bab V Peserta Didik).
Sistem pendidikan kedinasan dalam hal ini sekolah kedinasan bisa menjadi contoh untuk diterapkan juga pada bidang pendidikan, khususnya strategi dalam upaya peningkatan kualitas tenaga pendidik. Dimana calon tenaga pendidik (guru, dosen, ustadz, dsb) dipersiapkan melalui proses pendidikan dengan sistem sekolah kedinasan. Pasal 13 Bab VII tentang Pendanaan berbunyi “Pendanaan pendidikan kedinasan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau sumber lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.“ dan Pasal 12 Bab VI tentang Sarana dan Prasarana “Pengelolaan sarana dan prasarana yang diperoleh dengan dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada penyelenggara pendidikan kedinasan diselenggarakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Konsep tersebut diharapkan dapat meningkatkan lagi kualitas calon tenaga pendidik. Sebagaimana dengan sekolah kedinasan lain seperti PKN-STAN, STIS, dan sebagainya yang peminatnya tinggi peminatnya sebab prospek kerja dan tingkat kesejahteraan yang bisa dikatakan baik dan terjamin. Dimana calon tenaga pendidik diseleksi sebagaimana ujian masuk perguruan tinggi lainnya, selanjutnya yang dinyatakan lulus akan menempuh pendidikan dengan sistem pendanaan yang telah diatur, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Tentu konsep tersebut membutuhkan banyak kajian lagi, tapi fokus utama dari konsep tersebut adalah lebih ke bagaimana menciptakan tenaga pendidik yang mumpuni dan berkualitas, bagaimanapun kurikulum, pendanaan, serta metode yang dijalankan nantinya dengan pengawasan yang tentunya tetap harus dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, kesejahteraan tenaga pendidik juga perlu ditingkatkan lagi. Melihat peran tenaga pendidik sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Jadikan profesi tenaga pendidik/guru ini sebagai profesi yang bergengsi, sama halnya dengan profesi-profesi seperti dokter, insinyur, dan sebagainya. Sebab bagaimanapun berkembang dan majunya zaman tidak akan pernah ada yang bisa mengganti peran tenaga pendidik secara langsung, yang menyentuh aspek pembinaan moral dan akhlak, suatu hal yang tidak bisa dikerjakan oleh teknologi paling canggih sekalipun.


PENUTUP
Kesimpulan
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tidak melupakan nilai-nilai agama sebagai penunjang dalam pelaksanaan pendidikan. Konsep pendidikan Islam memberi harapan sebab bukan hanya menitikberatkan pendidikan hanya pada pengajaran saja tapi lebih dari itu bagaimana pendidikan dapat membentuk akhlak dan adab yang baik dalam kehidupan.
Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan usaha dan strategi dalam sistem pendidikan dengan mengubah cara kita memikirkan dakwah atau dalam hal ini pendidikan. Dimana faktor sumber daya harus menjadi perhatian agar terjadi keseimbangan antara beban dan daya pikul pada proses pendidikan. Kemudian hendaknya kembali membangun peradaban yang dulu pernah berjaya dimasa lampau dengan menjadikan masjid, khususnya masjid kampus dan program pembinaan peserta didik berbasis asrama/pondok yang masih relevan untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai motor penggeraknya. Konsep strategi peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik juga perlu diperhatikan sejak proses awal mulai dari proses seleksi calon tenaga pendidik, proses menempuh pendidikan dengan tawaran konsep sistem sekolah kedinasan, hingga setelah menjadi tenaga pendidik nantinya. Profesi tersebut juga harus menjadi profesi yang bergengsi sama  halnya dokter, insinyur, dan sebagainya. Dari uraian permasalahan dan konsep strategi pendidikan tersebut membutuhkan kesadaran kolektif oleh semua pihak, baik itu tenaga pendidik, peserta didik, dan juga pengambil kebijakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan dapat membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.


Saran
Strategi sistem pendidikan masih perlu dipirkan lagi oleh kita semua, baik itu dari tenaga pendidik, dari peserta didik itu sendiri, dan pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan. Kesejahteraan tenaga pendidik masih perlu mendapat perhatian lebih, mengingat peran tenaga pendidik sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Perpaduan antara strategi pengembangan pendidikan dan juga konsep pendidikan dalam Islam adalah salah satu strategi yang menjanjikan karena telah ter uji dimasa lampau. Sehingga perlu dikaji dan dikembangkan lagi sesuai konteks zaman.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Munyawi, Syaikh Ramzi. 2012. Muhammad Al-Fatih Penakluk Kontstantinopel. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

HAMKA. 2015. Lembaga Hidup. Jakarta: Republika Penerbit.

Husaini, Dr.Adian, et. Al. 2013. Filsafat Ilmu; Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani.

Iqbal, Abu Muhammad. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Matta, M.Anis. 2010. Dari Gerakan ke Negara. Bandung: Fitrah Rabbani.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2010 Tentang Pendidikan Kedinasan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Konsep dan Sistem Pendidikan Islam insists.id/konsep-dan-sistem-pendidikan-islam-1/

Masjid Salman ITB https://salmanitb.com/linkup-kegiatan/

Peran Peradaban Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-peradaban-islam-ilmu-pengetahuan








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Non Destructive Test (NDT) - Jenis Dye Penetrant Test (Material Aluminium)

Hose Test - pada bagian Sea Chest kapal